Ini Biang Kerok Harga Emas Anjlok dari Level Rp 3 Jutaan

Ini Biang Kerok Harga Emas Anjlok dari Level Rp 3 Jutaan

Amanda Christabel - detikFinance
Minggu, 22 Mar 2026 14:40 WIB
Ilustrasi Logam Mulia
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, harga emas sempat naik terus dibandingkan sejumlah instrumen investasi lainnya yang justru terseok-seok. Harga emas bahkan digadang-gadang bakal menyentuh Rp 3,5 juta saat momen Lebaran tahun ini.

Apalah daya, eskalasi konflik geopolitik yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Israel vs Iran justru melemahkan harga emas yang terus merosot tajam sepekan menjelang Idulfitri. Tercatat, dalam sepekan terakhir harga emas anjlok hingga mencapai Rp 103.000 per gram dari harga tertingginya yaitu Rp 2.996.000 per gram pada Rabu (18/3) menjadi Rp 2.893.000 per gram pada Sabtu (21/3).

Harga emas juga terus mengalami fluktuasi, bahkan cenderung terus mengalami degradasi harga dalam sebulan terakhir semenjak terus memanasnya konflik di Timur Tengah. Bayangkan saja, harga emas yang sempat naik 64% per 2025 dan menjadi tahun terbaik sejak 1979, justru terus menjauhi prediksi kenaikan harga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Salah satu penyebabnya adalah perang di Timur Tengah yang tanpa pimpinan. Amerika dan Israel menyasar pucuk-pucuk pimpinan di Iran, sehingga pernyataan politis jarang sekali terdengar di Iran. Amerika dan Israel menganggap bahwa dengan terbunuhnya pemimpin-pemimpin di Iran, dengan sendirinya Iran akan takluk," ujar pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, kepada detikcom, Minggu (22/3/2026).

Ibrahim bilang, ketidakpastian soal berakhirnya perang dan situasi di negara tersebut membuat investor resah dan mulai mengalihkan minat investasinya dari emas ke dolar AS.

ADVERTISEMENT

"Sehingga membuat para investor kembali meninggalkan logam mulia. Mereka untuk saat ini beralih ke dolar sebagai safe haven. Karena Iran sedang kekosongan pemimpin. Walaupun sudah ada pemimpin pun, tetapi pemimpin tersebut tidak mau berkomentar karena ada ketakutan daerahnya itu akan kelihatan dan akan diserang kembali," terangnya lanjut.

Tidak hanya itu, lonjakan harga minyak mentah (brent crude oil) yang menyentuh US$ 112 per barel juga jadi salah satu faktor anjloknya harga logam mulia secara tidak langsung. Ibrahim bilang, dengan tingginya harga minyak bakal mengerek harga komoditas dan inflasi yang berujung pada pengetatan suku bunga.

Kenaikan suku bunga saat inflasi tinggi akan membuat harga logam mulia tertekan. Saat bank sentral menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi, investor bisa mendapatkan imbal hasil lebih tinggi dari aset berbunga seperti obligasi, deposito, hingga surat utang pemerintah ketimbang emas.

"Sehingga Bank Sentral global dalam pertemuan minggu kemarin masih mempertahankan suku bunga. Bahkan, ada kemungkinan besar di bulan depan ini akan menaikkan suku bunga. Artinya, kenaikan suku bunga akibat inflasi yang tinggi rupanya berdampak negatif terhadap harga logam mulia," tandasnya.

(eds/eds)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads