Perang di Timur Tengah bukan hanya soal konflik militer di kawasan Teluk. Dampaknya kini merembet ke seluruh dunia, dari kebijakan penghematan energi di berbagai negara hingga tekanan berat terhadap pelaku usaha kecil.
Dunia seperti 'dipaksa berhemat' akibat lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah memicu gangguan besar terhadap pasokan energi dunia.
Jalur vital seperti Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas global, ikut terdampak. Serangan terhadap fasilitas energi juga memperburuk situasi, membuat harga energi melonjak tajam dan memaksa banyak negara mengambil langkah darurat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip Reuters, Senin (23/3/2026), lonjakan harga energi saat ini membuat pemerintah di berbagai negara harus memilih antara membayar energi lebih mahal atau mengurangi konsumsi. Pilihan kedua akhirnya banyak diambil.
Sejumlah kebijakan penghematan pun bermunculan. Thailand, misalnya, meminta pegawai negeri bekerja dari rumah, menunda perjalanan dinas ke luar negeri, hingga mendorong penggunaan tangga dibanding lift.
Bangladesh bahkan menutup kampus sebagai bagian dari strategi penghematan listrik, sementara Sri Lanka memberlakukan penjatahan bahan bakar.
Di beberapa negara lain, langkah penghematan bahkan menyentuh kebijakan yang lebih ekstrem seperti pemangkasan penggunaan listrik industri, pembatasan transportasi, hingga pelarangan ekspor bahan bakar untuk menjaga pasokan dalam negeri. Tujuannya sama, yakni menahan tekanan ekonomi akibat lonjakan harga energi global.
"Anda tidak akan bisa mengatasi ini hanya dengan upaya penghematan. Yang akan terjadi adalah kenaikan harga yang cukup tinggi sehingga orang-orang berhenti mengonsumsi," kata kepala investasi Pickering Energy Partners, Dan Pickering.
Tak hanya energi, gangguan perdagangan pupuk juga membuat harga melonjak 30-40%. Jika situasi berlanjut, produksi pertanian global berpotensi turun dan memicu krisis pangan baru.
UMKM Ikut Terjepit
Efek perang tidak berhenti di level kebijakan negara. Dunia usaha, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ikut merasakan tekanan.
Ketidakpastian global membuat biaya bahan baku naik, distribusi terganggu, dan daya beli masyarakat melemah. Kondisi ini menempatkan UMKM dalam situasi serba sulit, di mana menaikkan harga berisiko kehilangan pelanggan, namun mempertahankan harga bisa menggerus margin keuntungan.
Di sisi lain, pelemahan ekonomi global juga berpotensi menekan permintaan ekspor, sementara fluktuasi nilai tukar meningkatkan biaya produksi bagi pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor. Kondisi tersebut membuat pelaku UMKM berada di posisi maju kena, mundur kena dalam menghadapi dampak konflik geopolitik.
Gangguan energi juga memicu efek berantai pada rantai pasok global. Distribusi logistik, pengiriman bahan baku, hingga pasokan komoditas strategis seperti helium dan obat-obatan ikut terdampak.
Jika konflik berkepanjangan, tekanan ini bisa berujung pada kenaikan harga barang konsumsi di berbagai negara. Artinya, dampak perang di Timur Tengah tidak hanya dirasakan oleh negara yang terlibat langsung, tetapi juga oleh masyarakat di belahan dunia lain yang harus menyesuaikan pola konsumsi mereka.
(eds/eds)










































