Biang Kerok Harga Emas Rontok

Biang Kerok Harga Emas Rontok

Andi Hidayat - detikFinance
Selasa, 24 Mar 2026 07:00 WIB
Gold bars of various values are stored in a safe deposit room in Munich, Germany, January 28, 2026. REUTERS/ Angelika Warmuth
Ilustrasi.Foto: REUTERS/Angelika Warmuth
Jakarta -

Harga emas dunia rontok di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik imbas perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Sepanjang perdagangan sepekan terakhir, harga emas bahkan disebut mengalami pekan terburuk sejak 1983.

Dilansir dari CNN, harga emas dunia turun 11% sepanjang perdagangan sepekan terakhir. Catatan ini menjadi kerugian terbesar sejak tahun 1983. Sementara jika ditarik sejak dimulainya perang Amerika Serikat (AS) dan Iran, harga emas dunia turun lebih dari 14%.

Lantas apa yang menyebabkan harga emas melemah di tengah ketidakpastian geopolitik?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Investor kerap membeli emas dengan harapan keamanan nilai aset jika inflasi melonjak, mata uang jatuh, atau saat krisis terjadi. Akan tetapi, kenaikan harga energi di tengah perang AS-Israel melawan Iran mendorong sejumlah bank sentral kembali mempertimbangkan prospek suku bunga.

Kondisi ini kemudian mempengaruhi pergerakan harga emas. Pasalnya, gejolak justru memicu penguatan dolar AS dan mendorong investor untuk mengevaluasi kembali kepemilikan mereka.

ADVERTISEMENT

Para pelaku pasar sendiri memperkirakan bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan tingkat suku bunga tetap stabil tahun ini. Hal ini disebut akan meningkatkan daya tarik investasi pada instrumen imbal hasil seperti obligasi.

Menurut CME FedWatch, para pelaku memperkirakan tidak akan ada penurunan suku bunga lebih lanjut tahun ini. Adapun pada hasil pertemuan FOMC beberapa waktu lalu, The Fed mempertahankan suku bunga tetap.

Sebelumnya, harga emas diketahui sempat naik saat The Fed memangkas suku bunga tiga kali berturut-turut. Namun pada beberapa bulan ke depan, The Fed diperkirakan tidak akan memangkas suku bunganya. Kondisi ini akan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi.

Selain The Fed, bank sentral di seluruh dunia juga mengubah kebijakan suku bunga imbas perang Iran dan gangguan harga energi. Kekhawatiran tentang inflasi mendorong bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tetap atau menaikkannya sebagaimana yang dilakukan Reserve Bank of Australia.

Sementara itu, dolar AS berangsur pulih bulan ini. Kondisi ini membuat emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor internasional mengingat pergerakan mata uang AS mempengaruhi harga logam mulia tersebut.

"Saya rasa dalam penurunan harga emas baru-baru ini, imbal hasil yang lebih tinggi memainkan peran besar," kata Ekonom Fundstrat, Hardika Singh, dikutip dari CNN, Senin (23/3/2026).

Emas cenderung diuntungkan jika dolar yang melemah. Hal ini terjadi karena logam mulia menjadi relatif lebih terjangkau bagi investor di seluruh dunia. Sementara sejak perang AS dan Iran berlangsung, indeks dolar naik hampir 2%.

Pemulihan dolar ini bisa mengurangi daya tarik emas. Permintaan akan aset aman, kekhawatiran tentang inflasi, dan prospek suku bunga yang lebih tinggi telah mendorong penguatan dolar. Hal ini menjadi sinyal lain dari pasar tentang perang Iran dapat mengganggu ekonomi global.

Sementara harga emas yang naik dalam beberapa bulan terakhir, didorong oleh euforia yang kini mulai mereda. Investor juga mungkin akan menjual emas untuk menutupi kerugian pada aset lain. Momentum mulai melemah setelah harga emas melonjak tinggi selama dua tahun terakhir.

Harga emas dunia sendiri sempat mencatat kenaikan tertinggi sejak 1979, yakni sebesar 64% pada tahun 2025. Logam mulia ini mencapai harga US$ 5.000 per troy ons untuk pertama kalinya pada bulan Januari. Kemudian pada Jumat, harga emas turun di bawah US$ 4.500 per troy ons seiring meredanya euforia logam mulia.

(ahi/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads