Efek Domino Perang, Plastik Mendadak Jadi Barang Mahal!

Efek Domino Perang, Plastik Mendadak Jadi Barang Mahal!

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 01 Apr 2026 13:35 WIB
tote bag ganti kantong plastik
Ilustrasi Plastik/Foto: iStock
Jakarta -

Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran di Timur Tengah tidak hanya mendorong biaya logistik dan energi global melonjak, tetapi juga ikut mengerek harga produk dan bahan baku plastik. Kondisi ini berpotensi menaikkan harga produk makanan dan minuman dalam kemasan.

Melansir CNN, Rabu (1/4/2026), sejak perang dimulai, harga minyak mentah melonjak dari kisaran US$ 67 per barel menjadi di atas US$ 98, bahkan sempat menembus US$ 100 per barel. Sementara itu, harga gas alam acuan di Asia dan Eropa naik lebih dari 60% dalam periode yang sama.

Masalahnya, produk plastik sebagian besar berasal dari hasil pengolahan minyak bumi. Ini termasuk polietilen (PE) dan polipropilen, dua jenis plastik yang paling banyak digunakan di dunia. Artinya, kenaikan harga minyak tidak hanya meningkatkan biaya produksi plastik, tetapi juga harga bahan bakunya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, kawasan Timur Tengah merupakan pemasok utama bahan baku plastik global. Berdasarkan data S&P Global Energy, kawasan ini menyumbang sekitar 25% dari ekspor polietilen dan polipropilen dunia. Konflik yang terjadi pun secara otomatis mengganggu rantai pasok produk turunan minyak bumi tersebut.

"Sekitar 84% kapasitas polietilen Timur Tengah bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor melalui jalur laut," kata Harrison Jacoby, Direktur Polietilen di Independent Commodity Intelligence Services, kepada CNN.

ADVERTISEMENT

Padahal, plastik merupakan bahan baku penting di berbagai industri. Mulai dari produksi barang hingga proses pengemasan, banyak sektor yang bergantung pada plastik.

"Akibatnya, produk-produk seperti peralatan makan sekali pakai, minuman dalam botol, dan kantong sampah bisa menjadi yang pertama mengalami kenaikan harga dalam beberapa minggu mendatang," kata Patrick Penfield, profesor praktik rantai pasok di Universitas Syracuse.

Menurut Penfield, kenaikan biaya pengemasan dapat mendorong harga makanan naik dalam dua hingga empat bulan ke depan. Hal ini terjadi karena perusahaan mulai kehabisan stok plastik yang dimiliki sebelum perang pecah di Timur Tengah.

"Perusahaan pengemasan cenderung menyesuaikan desain yang sudah ada, menggunakan plastik yang lebih tipis, atau membuatnya lebih murah," jelas Penfield.

Sementara itu, produk yang sebagian besar berbahan plastik seperti kantong sampah berpotensi mengalami kenaikan harga lebih tajam dibandingkan barang yang lebih kompleks seperti mobil, di mana plastik hanya menjadi salah satu dari banyak komponen.

Simak juga Video 'BI Tahan Suku Bunga 4,75% untuk Jaga Rupiah':

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads