BUMN Kelimpungan Cari Plastik Kemasan, Imbas Perang Makin Nyata!

BUMN Kelimpungan Cari Plastik Kemasan, Imbas Perang Makin Nyata!

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 07 Apr 2026 13:59 WIB
Toko Plastik di Palembang
Ilustrasi Plastik/Foto: (Foto: Ani Safitri)
Jakarta -

Salah satu BUMN pangan, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID FOOD, mulai merasakan dampak dari perang di Timur Tengah, yakni kesulitan mencari kemasan plastik untuk mengemas produk mereka. Hal ini karena perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel tersebut mengakibatkan masalah pada pasokan biji plastik global, termasuk di Indonesia.

"Kami kesulitan yang sekarang lagi viral, bukan lagi viral, lagi terasa di pihak kami sebagai pemain pangan, yaitu kesulitan kemasan. Jadi di semua pabrik-pabrik itu sudah mulai terasa kelangkaan biji plastik," kata Direktur Utama ID Food, Ghimoyo dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).

Menurutnya masalah pasokan ini sangat krusial mengingat sebagian besar produk pangan bergantung pada bahan plastik untuk kemasan mulai dari beras hingga minyak goreng, yang artinya masalah ini berpotensi menimbulkan gangguan pada rantai pasok pangan nasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena ini seluruh pangan, seluruh pupuk, seluruh beras itu menggunakan karung plastik. Lalu kemasan-kemasan kiloan, kemasan minyak goreng juga menggunakan bahan yang sama," paparnya.

Tak hanya mengganggu rantai pasok pangan dalam negeri, kelangkaan pasokan kemasan plastik ini juga berpotensi menimbulkan gangguan pada pelaksanaan sejumlah program pemerintah yang ditugaskan kepada ID FOOD.

ADVERTISEMENT

"Kami aktif mengelola dan mendistribusikan CPP (Cadangan Pangan Pemerintah), khususnya untuk enam komoditas strategis yaitu daging ruminansia, daging ayam, telur, gula, minyak goreng, dan ikan kembung," terangnya.

"Kami juga aktif mendukung program pemerintah melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) bersama Badan Pangan Nasional. ID Food menyuplai sekitar 420 titik penugasan dari total 1.900 titik Gerakan Pangan Nasional di tahun 2026," sambung Ghimoyo.

Sebagaimana diketahui, plastik sebagian besar berasal dari hasil pengolahan minyak bumi termasuk polyethylene (PE) dan polypropylene, dua jenis plastik yang paling banyak digunakan di dunia. Kenaikan harga minyak akibat perang tidak hanya meningkatkan biaya produksi plastik, tetapi juga harga bahan bakunya.

Terlebih kawasan Timur Tengah merupakan pemasok utama bahan baku plastik global. Berdasarkan data S&P Global Energy, kawasan ini menyumbang sekitar 25% dari ekspor polyethylene dan polypropylene dunia. Konflik yang terjadi pun secara otomatis mengganggu rantai pasok produk turunan minyak bumi tersebut.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia impor plastik dan barang dari plastik (HS 39) senilai US$ 873,2 juta atau setara Rp 14,78 triliun (kurs Rp 16.927) pada Februari 2026. Barang tersebut dipasok dari berbagai negara.

Impor plastik dan barang dari plastik pada Februari 2026 paling banyak berasal dari China yakni US$ 380,1 juta. Kemudian disusul dari Thailand US$ 82,7 juta dan dari Korea Selatan (Korsel) US$ 66,7 juta.

Indonesia juga tercatat impor plastik dan barang plastik dari Amerika Serikat (AS) yang saat ini sedang berperang dengan Iran. Tercatat impornya mencapai US$ 29,9 juta pada Februari 2026.

Kemudian Indonesia juga impor plastik dan barang plastik dari Arab Saudi senilai US$ 14,9 juta pada Februari 2026. Pemasok juga ada berasal dari Vietnam, Jepang, Singapura, Malaysia dan Taiwan.

Simak juga Video 'Menaker Izinkan Perusahaan Atur Jadwal WFH':

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads