Minta Kresek Tambahan di Pasar Kini Kena Rp 500

Minta Kresek Tambahan di Pasar Kini Kena Rp 500

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 09 Apr 2026 13:44 WIB
Plastik
Plastik/Foto: Ignacio Geordy Oswaldo
Jakarta -

Kenaikan harga plastik, terutama untuk kantong kemasan dan kresek belanja, mulai berdampak ke pedagang di pasar tradisional. Sebab, kenaikan harga ini secara langsung mengerek modal dagang, yang akhirnya mengurangi pendapatan bersih mereka.

Kondisi ini seperti yang dialami pedagang toko sembako dan plastik di kawasan Pasar Gondangdia, Jakarta Pusat, bernama Asan. Ia mengaku kenaikan harga terjadi untuk seluruh jenis plastik.

Menurutnya, kenaikan harga rata-rata sudah di atas 50% untuk setiap jenis plastik, membuat harga modal jauh lebih tinggi dari harga jual sebelumnya. Hal ini memaksanya untuk menaikkan harga jual sedikit di atas harga modal, sekaligus mengurangi margin keuntungan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau dulu kresek (kecil) ini kan modalnya paling Rp 10.000-11.000 gitu kan. Kalau sekarang modalnya sudah Rp 15.000-16.000. Nah kalau yang ini (kresek sedang) biasa jual Rp 15.000, sekarang modalnya ini sudah Rp 19.000. Kita jual Rp 20.000, dulu bisa ambil untung Rp 1.500, sekarang Rp 1.000 gitu," jelas Asan saat ditemui detikcom, Kamis (9/4/2026).

Masalahnya, selain menjual plastik, ia juga menjual sembako yang seluruhnya membutuhkan kantong plastik untuk mengemas belanjaan pembeli. Padahal, untuk urusan ini ia tidak bisa serta-merta ikut menaikkan harga jual produk seperti beras dan tepung eceran.

ADVERTISEMENT

"Kalau beras kan biasanya memang harus di-double ya, kadang dalamnya (sebagai kemasan beras) minta kresek yang putih ya, luarnya baru yang hitam gitu. Karena yang hitam katanya bau, kalau yang putih kan lebih mahal," ujar Asan.

"Kalau ini tepung eceran kan kita memang harus pakai plastik yang bagus ya, kalau nggak kan pecah, jadi dua kali kerja. Tapi harga kan nggak bisa naik, jadi kita yang kurangin untung. Nggak nambah modal banyak sih, jadi masih bisa nahan harga," sambungnya.

Ia pun masih memberikan plastik kresek secara gratis untuk pembeli membawa pulang belanjaan sesuai kebutuhan. Namun, jika pelanggan meminta tambahan plastik atau kresek yang lebih besar dari kebutuhan belanjanya, maka ia mengenakan tambahan biaya sebesar Rp 500.

"Minta kantong, atau kalau misalnya cuma beli minyak yang 1 liter tapi minta kantong yang besar gitu, kadang saya mintain Rp 500. Cuma kadang-kadang nggak mau, nggak jadi minta gitu. Ya jadinya pakai yang sesuai, untuk kemasan seliter atau belanja 2 kg ya yang ini plastiknya," terang Asan.

"Soalnya minta kena biaya Rp 500 ada yang mau, ada yang nggak. Kebanyakan ya yang nggak mau. Tapi sebagian ada yang ngertiin sih, 'nggak usah pakai plastik deh, plastik lagi mahal'. Sebagian ada yang sudah mau bawa tas belanja dari rumah, sebagian. Tapi ya masih sedikit lah," ujarnya lagi.

Di luar itu, saat ini Asan juga lebih banyak menggabungkan belanjaan pembeli dalam satu kantong plastik kresek, alih-alih memberikan dua kantong. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi penggunaan plastik yang memang sedang mahal.

"Ada biasanya kan belanja dibikin dua tentengan, sekarang jadi satu tentengan. Kayak contohnya itu kan tadinya Rp 15.000 dibikin dua tempat deh, tentengnya berat gitu. Sekarang satu saja deh, lagi mahal kantongnya," paparnya.

Sementara itu, Ida selaku pedagang sayuran di Pasar Gondangdia juga mengaku cukup resah imbas kenaikan harga plastik saat ini. Sebab, setiap sayur yang dibeli pelanggan perlu ia kemas dengan kantong plastik, sehingga kenaikan harga ini cukup memberatkan dirinya.

"Jadi nambah pengeluaran, sekarang sehari nambah Rp 30.000 buat plastik. Kalau kayak gini kan (jualan sayur) untungnya nggak seberapa," ujarnya.

Untuk mengatasi masalah ini, alih-alih mengenakan biaya tambahan ke pembeli, Ida lebih memilih menghemat penggunaan plastik dengan menggabungkan sayuran yang dibeli dalam satu kantong.

Selain itu, dirinya juga mengganti jenis plastik kresek yang digunakan dengan yang lebih murah meski secara kualitas kurang bagus. Menurutnya, langkah ini tidak menjadi masalah karena plastik tersebut hanya digunakan untuk mengemas sayur sebelum dimasukkan ke kantong lain.

"Kan kayak tadi beli (cabai) rawit merah sama keriting kita pisah kantongnya, tadi kan kita gabung. Sama ini paling, biasanya pakai yang plastik bening kan, sekarang pakai yang loreng gini yang lebih tipis, lebih murah. Kan cuma buat sayur di dalam," ucap Ida.

Simak juga Video 'Harga Plastik Naik Drastis, Pedagang Menjerit-Pembeli Meringis':

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads