RI Tawari Norwegia Garap CCS di Ladang Migas
Selasa, 23 Okt 2007 11:01 WIB
Jakarta -
Indonesia menawarkan wilayah migasnya pada Norwegia sebagai lokasi pengembangan CCS (carbon captured storage). CCS merupakan suatu teknologi penyimpanan emisi karbon yang dihasilkan dalam aktivitas migas. Caranya dengan menangkap emisi karbon tersebut dan menginjeksikannya ke dalam tanah. Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dalam acara CDM in Petroleum industry di Ritz Carlton menjabarkan, ada empat wilayah yang berpotensi sebagai lokasi pengembangan CCS. "Kita tawarkan wilayah kita ke Norwegia, ada Kaltim dan Jambi," katanya, Senin (22/10/2007). Selain kedua lokasi itu, wilayah lainnya adalah Natuna D Alpha yang memang mengandung banyak CO2, dan lapangan Duri di Sumatera milik Chevron. Sementara itu Kepala Balitbang Departemen ESDM Nenny Sri Utami menjelaskan, pihaknya masih akan mengkaji wilayah mana yang akan diajukan ke Norwegia. "Butuh studi yang lama, sekitar setahun atau dua tahun," katanya. Pengembangan CCS ini merupakan salah satu program clean development mechanism. Setiap karbon yang diamankan bisa dijual ke negara penghasil emisi yang besar. Purnomo menjelaskan, CCS akan lebih ekonomis jika digabung dengan program Enhance Oil Recovery untuk meningkatkan produksi minyak. "Karena selain bisa mendapatkan dolar dari kredit karbon yang bisa dijual, kita juga bisa dapat dolar dari peningkatan produksi minyaknya," jelasnya. Selain dengan Norwegia, Indonesia juga tengah mengkaji pengembangan CCS dengan Sojitz dan Mitsubishi dari Jepang. "Dengan Mitsubishi soal dananya, sedangkan dengan Sojitz soal penangkapannya," ujar Nenny. Selain itu, Indonesia juga mengajukan adaptation fund ke Norwegia. Adaptation fund adalah dana yang diperlukan negara berkembang untuk beradaptasi dalam rangka penurunan emisi karbon. "Selain ke Norwegia, kita juga akan mengajukan ke negara-negara maju lainnya," katanya.
(lih/ir)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































