Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menggandeng TikTok dalam program pelatihan vokasi bertajuk Belajar Implementasi & Skill Adaptif Bareng TikTok (BISA). Program ini bertujuan mendukung peluang ekonomi kreatif di dunia digital.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengatakan, dalam 10 tahun ke depan sekitar 50% proses bisnis di industri saat ini akan menjadi tidak relevan dan tergantikan oleh model baru. Ia menilai perubahan itu terlihat dari munculnya berbagai pekerjaan baru yang bahkan belum ada 5 hingga 20 tahun lalu.
Menurutnya, profesi seperti content creator, afiliator, reseller hingga host live commerce mulai berkembang dan belum tentu diajarkan dalam kurikulum formal. Karena itu, pelatihan vokasi dinilai bisa menjadi solusi untuk mendukung peluang tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang ada namanya content creator, ada namanya afiliator, ada reseller.Kalau dulu reseller itu apa namanya ya? Tukang jual barang bekas kali gitu, reseller ya. Kemudian live commerce, host, dan lain-lain. Semua ini adalah pekerjaan-pekerjaan, job title yang baru.Kalau ditanya ada nggak kuliah yang spesifik mengajarkan kurikulumnya tentang ini, belum tentu. Mungkin sekarang juga sudah mulai ada. Sehingga kami melihat ini bagian dari pelatihan vokasi yang bisa kita isi,"tutur Yassierli di Gedung Vokasi Kemnaker, Jakarta Selatan, Rabu (15/4/2026).
Yassierli menyebut pemerintah terus mendorong penguatan pelatihan vokasi untuk merespons perubahan pola kerja, termasuk di sektor digital commerce. Ia mengatakan kerja sama dengan platform seperti TikTok dan Shopee diharapkan bisa memperluas peluang kerja baru.
Saat ini program pelatihan vokasi nasional ditargetkan menghasilkan 60.000-70.000 lulusan per tahun. Namun ke depan, pemerintah ingin meningkatkan jumlah tersebut secara signifikan hingga mencapai 500.000 orang per tahun melalui kerjasama dengan berbagai platform.
"Dan ini tentu nanti harapannya menambah, kalau dari vokasi yang sudah berjalan program pelatihan vokasi nasional, target kita 60.000-70.000, ini ditambah dengan ini, itulah yang saya inginkan, kalau bisa kita bisa menghasilkan lulusan pelatihan vokasi itu bisa sampai 500.000 dalam satu tahun," sebut Yassierli.
Yassierli menjelaskan, dunia kerja kini mengalami pergeseran, di mana muncul banyak jenis pekerjaan baru yang bersifat fleksibel dan cenderung informal. Meski tidak selalu dalam hubungan kerja formal, pekerjaan ini bisa menjadi solusi sementara bagi masyarakat sambil mencari pekerjaan tetap.
Ia juga menegaskan pelatihan vokasi bukan tujuan akhir. Pemerintah tetap berupaya menciptakan lapangan kerja formal yang layak melalui berbagai program strategis seperti ketahanan pangan dan hilirisasi industri, agar penyerapan tenaga kerja bisa lebih besar dan berkelanjutan.
"Apakah ini menjadi ultimate goal kita? Tentu tidak, kita tetap sesuai dengan amanat konstitusi, pekerjaan yang layak, penghidupan yang layak, tadi saya sampaikan bahwa pemerintah juga sedang menyiapkan dengan misalnya program-program ketahanan pangan, hilirisasi, itu adalah salah satu solusi penciptaan pekerjaan yang lebih masif nantinya. Ini bisa menjadi pilihan," tutup Yassierli.
(ily/ara)










































