Jumlah Penumpang KRL Naik Terus, Begini Datanya

Jumlah Penumpang KRL Naik Terus, Begini Datanya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 26 Apr 2026 20:00 WIB
Commuter Line Nomor 1189 relasi Bogor-Jakarta Kota yang anjlok di emplasmen Stasiun Jakarta Kota, Jakarta Barat, telah dievakuasi. Ini penampakannya. (Adrial A/detikcom)
Foto: Commuter Line Nomor 1189 relasi Bogor-Jakarta Kota yang anjlok di emplasmen Stasiun Jakarta Kota, Jakarta Barat, telah dievakuasi. Ini penampakannya. (Adrial A/detikcom)
Jakarta -

KRL Commuter Line menjadi salah satu transportasi publik andalan bagi masyarakat di Jabodetabek. Pengguna KRL dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan yang pesat.

Perbaikan layanan, penambahan kapasitas, dan kemudahan perpindahan antarmoda membentuk pola mobilitas baru yang lebih efisien dan terjangkau menjadi beberapa faktor pendorong KRL Commuter Line jadi andalan warga Jabodetabek.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan perubahan perilaku masyarakat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sistem transportasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ketika sistem transportasi dibangun dengan lebih andal, masyarakat akan mengikuti dengan sendirinya. Pilihan menggunakan transportasi publik muncul karena layanan memberi kemudahan, keterjangkauan, kepastian, dan rasa aman," ujar Anne dalam keterangannya, Minggu (26/4/2026).

Datanya, pertumbuhan volume pengguna di seluruh lintas KRL Jabodetabek meningkat pesat. Di lintas Bogor, jumlah pengguna meningkat dari 102.054.022 penumpang pada 2022 mencapai 155.009.997 penumpang pada 2025. Pada Januari hingga Maret 2026, jumlah masyarakat yang menggunakan KRL Commuter Line telah mencapai 38.203.481 penumpang.

ADVERTISEMENT

Di lintas Cikarang, jumlah pengguna tercatat 55.660.235 penumpang pada 2022 dan meningkat menjadi 85.936.774 penumpang pada 2025. Tiga bulan pertama 2026, jumlah penggunanya telah mencapai 21.717.664 penumpang.

Sementara itu, di lintas Rangkasbitung pertumbuhan penumpang juga konsisten, dari 43.317.716 penumpang pada 2022 menjadi 77.552.716 penumpang pada 2025. Pada Januari hingga Maret 2026, jumlah masyarakat yang dilayani mencapai 20.197.205 penumpang.

Di lintas Tangerang, jumlah pengguna meningkat dari 15.333.812 penumpang pada 2022 menjadi 27.280.453 penumpang pada 2025. Sejak awal tahun jumlah pengguna tercatat 6.987.364 penumpang.

Begitu juga di lintas Tanjung Priok, tren peningkatan pengguna juga terjadi. Awalnya hanya 1.599.107 pelanggan pada 2022 menjadi 3.531.311 pelanggan pada 2025. Pada Januari hingga Maret 2026, jumlah pengguna mencapai 873.658 pelanggan.

Pertumbuhan di seluruh lintas tersebut mencerminkan perubahan yang terjadi secara bertahap dalam kehidupan masyarakat. Waktu perjalanan yang lebih teratur membuat aktivitas harian dapat direncanakan dengan lebih baik.

Dari sisi biaya, tarif yang terjangkau menjaga mobilitas tetap dapat diakses oleh berbagai lapisan masyarakat. Efisiensi ini memberi ruang bagi pengeluaran ke kebutuhan produktif lain seperti pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan rumah tangga.

"Perubahan pilihan moda juga berdampak pada kondisi jalan. Kepadatan lalu lintas berkurang, perjalanan menjadi lebih lancar, dan risiko kecelakaan dapat ditekan. Lingkungan ikut membaik karena berkurangnya polusi karena penggunaan kendaraan pribadi," kata Anne.

KAI memandang bahwa infrastruktur transportasi yang tepat dapat membentuk kebiasaan masyarakat dalam jangka panjang. Ketika jaringan semakin terhubung, kapasitas meningkat, dan layanan semakin terintegrasi, peralihan ke transportasi publik akan terjadi secara alami dan berkelanjutan.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads