Pertumbuhan Ekonomi RI Belum Atasi Kemiskinan
Rabu, 31 Okt 2007 15:27 WIB
Jakarta -
Kinerja makro ekonomi Indonesia yang membaik dalam 3 tahun terakhir ini ternyata belum bisa mengatasi masalah tingkat pengangguran dan kemiskinan yang masih tinggi. Demikian diungkapkan oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom dalam Round Table Discussion Ke-5 PPSK-BI bertema Pemberdayaan Sektor Riil Untuk Mempercepat Pertumbuhan Ekonomi Melalui Peningkatan Koordinasi Kebijakan Fiskal dan Moneter yang diadakan di Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta (31/10/2007)."Pengangguran terbuka pada Juni 2007 mencapai 10,6 juta orang atau 9,8% (dari jumlah penduduk Indonesia) dan angka tersebut jauh lebih tinggi dari level sebelum krisis 1997 yang sebesar 4,7%," jelasnya.Miranda juga mengatakan per Juni 2007 jumlah penduduk miskin mencapai 37,17 juta orang atau 17,75% dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia. Terjadinya anomali antara pertumbuhan ekonomi dengan kemiskinan dan pengangguran tersebut, menurut Miranda, terkait dengan banyaknya permasalahan dalam pembangunan ekonomi."Berdasarkan kajian, BI menemukan fakta bahwa peningkatan pengangguran dan kemiskinan yang melanda Indonesia ini antara lain disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang lebih banyak disumbang oleh sektor non tradable yang relatif sedikit menyerap tenaga kerja," jelasnya.Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif ECONIT Henri Saparini mengatakan bahwa dalam menghadapi kenaikan harga minyak dunia yang terjadi, pemerintah diminta tidak hanya sebatas untuk mengamankan APBN saja, tapi juga melihat dampaknya bagi masyarakat."2005-2007 hampir APBN ini aman kemudian defisit kita turun pada 2005 tetapi malah kemiskinan kita bertambah. Jadi kita tidak boleh lagi bicara mengenai asumsi-asumsi atau target-target antaranya saja, karena tetap bergantung kepada kebijakan apa yang akan kita ambil," tuturnya.
(dnl/ard)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































