Industri Unggas Kena Imbas Kenaikan Harga Minyak Dunia
Minggu, 04 Nov 2007 11:00 WIB
Jakarta - Kenaikan harga minyak dunia bukan hanya berimbas kepada penurunan kinerja industri manufaktur maupun industri transportasi, ternyata juga telah berimbas negatif terhadap industri perunggasan nasional.Kekeringan di Australia dan gangguan cuaca di beberapa negara lain, ditambah melonjaknya pengunaan jagung untuk biofuel telah mendongkrak harga bahan baku pakan ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.Demikian dikatakan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Budiarto Subijanto dalam perbincangannya dengan detikFinance, Jakarta, Minggu (4/11/2007)."Harga bahan baku pakan melonjak drastis, tapi harga daging ayam dan telur tidak bisa naik, bisa-bisa peternak unggas menuju kehancuran," ujar Budiarto.Budiarto menjelaskan, dibanding bulan Juli, harga bahan baku pakan unggas yang rata-rata diimpor, seperti jagung naik dari US$ 220/ton menjadi US$ 306/ton, BKK naik dari US$ 320/ton menjadi US$ 475/ton, MBM naik dari US$ 410/ton menjadi US$ 575/ton, CGM naik dari US $ 530/ton menjadi US$ 675/ton, PMM naik dari US$ 500/ton menjadi US$ 740/ton."Kenaikan itu berdampak pada kenaikan harga pakan sebesar Rp 450/kg sejak 3 bulan terakhir dan masih potensi lagi naik sebesar Rp 500/kg. Saat ini harga DOC atau bibit ayam anjlok ke Rp 1.000 sampai Rp 1.500 per ekor. tapi harga pakan sekitar Rp 3.700 per kg," ujarnya.Dengan demikian harga break even point (BEP) untuk ayam broiler sekitar Rp 8.700 per kg. Namun apabila harga pakan menjadi Rp 4.200 per kg dan DOC Rp 2500 per ekor, maka harga BEP naik mencapai Rp 10.500 per kg."Kenaikan harga pakan terjadi di seluruh dunia. Bedanya kalau di Indonesia, BEP naik tapi harga jual ayam tetap rendah. Sedangkan di negara lain harga ayam dan DOC ikut naik drastis karena daya beli kuat," keluhnya.
(arn/sss)











































