BI: Di Indonesia Krisis Subprime Hanya Riak Kecil
Kamis, 08 Nov 2007 17:32 WIB
Jimbaran -
Krisis subprime mortgage yang tengah melanda pasar di Amerika Serikat tidak akan terlalu memberikan dampak serius bagi Indonesia. Dampaknya kecil bagi ekonomi Indonesia.Hal tersebut ditegaskan Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah dalam jumpa pers mengenai Seminar Internasional Tahunan Bank Indonesia di Hotel Ritz Carolton, Jimbaran, Badung Bali, Kamis (8/11/2007)."Krisis subprime di AS bagi Indonesia tidak banyak pengaruhnya karena eksposure secara langsung tidak ada disitu. Tapi secara tidak langsung karena adjustment dari portfolio investor akan sedikit membuat riak di pasar keuangan Indonesia," ujarnya.Burhanuddin juga mengatakan selain mencermati soal krisis subprime, BI juga memperhatikan kenaikan harga minyak mentah yang kini di atas US$ 90 per barel."Harga minyak adalah sesuatu yang perlu dicermati secara baik kedepan. Karena bisa saja kita dalam jangka yang pendek harga minyak yang tinggi justru memberikan manfaat karena dia akan mendorong investasi di bidang perminyakan, energi termasuk energi nabati," ujarnya.Mengenai tekanan inflasi, BI memandang, kemampuan Indonesia untuk mengganti barang-barang produksi yang selama ini diimpor dari luar negeri."Sehingga setiap kali ada sumber yang memungkinkan suplainyanya bisa naik, kalau suplainya naik biasanya akan mengurangi tekanan dari sisi output gap," ujar Deputi Gubernur Senior BI Miranda S Goeltom."Tentu dampaknya jangka panjang tapi pergerakan ke arah itu harus lebih jelas, misalnya pengurangan biaya investasi dan sebagainya," imbuhnya.
(ddn/qom)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































