Impor Tabung Siapa 'Kompornya'?

Impor Tabung Siapa 'Kompornya'?

- detikFinance
Jumat, 09 Nov 2007 10:57 WIB
Jakarta - Kisruh perlu tidaknya Pertamina melakukan impor tabung elpiji untuk program konversi minyak tanah ke gas elpiji akhirnya terselesaikan di Istana RI 2.Keinginan produsen tabung dan kompor gas lokal untuk membuat semua produk program konversi dari dalam negeri pun pupus sudah.Dalam rapat khusus mengenai tabung gas elpiji di Istana Wakil Presiden Kamis kemarin (8/11/2007) pemerintah mengizinkan Pertamina melakukan impor 4,2 juta tabung hingga Februari 2008.Impor tabung direstui dengan alasan produsen dalam negeri tidak mampu memenuhi target 10 juta tabung hingga Desember 2007. Produsen lokal hanya sanggup memasok 5,8 juta tabung elpiji, sehingga kekurangannya 4,2 juta harus diimpor.Pertamina berdalih kebutuhan tabung sangat mendesak karena program konversi minyak tanah ke gas elpiji dipercepat, dari semula lima tahun pada tahun 2012 menjadi tiga tahun di 2010. Program konversi ini akan membidik 42 juta kepala keluarga (KK).Memang tidak ada larangan impor tabung elpiji. Tapi keputusan impor tabung tersebut membuyarkan cita-cita bahwa industri Indonesia sebenarnya sangat mampu membuat tabung dengan teknologi sederhana itu.Dengan impor justru makin meneguhkan citra industri Indonesia tidak bisa apa-apa. Sampai-sampai keperluan tabung saja harus didatangkan dari luar negeri.Semula ribut-ribut penolakan impor tabung elpiji datang dari markas departemen perindustrian di Jalan Gatot Subroto Jakarta.Sang pemimpin instansi yang tak lain Menteri Perindustrian Fahmi Idris murka, begitu tahu ada impor tabung elpiji ukuran 3 kg diam-diam sudah berada di Tanjung Priok sejak 10 Oktober 2007.Fahmi mempertanyakan kenapa ada impor yang masuk, padahal depperin sudah berkomitmen pada pengusaha lokal untuk banyak berperan dalam maha proyek ini.Mantan aktivis 66 itu menuding ada pihak yang bermain dalam impor yang hanya bisa dilakukan jika ada rekomendasi dari depperin. Pihak depperin dan Pertamina sempat 'bersitegang' dengan kedatangan ribuan tabung elpiji itu, karena dalam tabung tersebut ada logo Pertamina.Namun Pertamina mengklarifikasi tidak pernah melakukan impor dan akan menuntut Global Pacific Energy (GPE) selaku importir yang tanpa izin memasang logo Pertamina di tabung tersebut.Rapat pun digelar, depperin dengan sejumlah pihak seperti Pertamina, Kadin, asosiasi dan Bea Cukai pada 5 November 2007 akhirnya memutuskan 83.498 tabung elpiji 3 kg asal China itu akan direekspor.Pengusaha lokal pun lega karena mengira komitmen pemerintah yang demikian tinggi mengutamakan produk dalam negeri.Tapi kelegaan itu hanya berumur pendek karena dalam rapat dengan RI 2 Kamis kemarin (8/11/2007) impor tabung elpiji dibuka.Tidak ada yang tahu bagaimana sikap Fahmi Idris yang selalu menentang impor elpiji dalam rapat tertutup di Istan wapres kemarin.Padahal dalam jumpa pers 1 November 2007, Fahmi dengan sewot berkata, Pertamina bisa kuwalat jika melakukan impor. Kebakaran dua kali di gedung Pertamina pusat dan kilang Balongan, menurutnya, karena Pertamina kena batunya karena selalu ngotot ingin impor. Bisa jadi kebakaran itu memang kebetulan dengan niat Pertamina melakukan impor. Tapi yang jelas, kebijakan tersebut sekali lagi mempertontonkan bahwa pemerintah jarang sekali berpihak pada kemajuan industri dalam negeri.Kalau semua sedikit-sedikit impor, barangkali tidak ada lagi yang mau jadi produsen karena menjadi importir lebih murah dan gampang.Duh... (ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads