G-20 Ingatkan Perlambatan Ekonomi Dunia

G-20 Ingatkan Perlambatan Ekonomi Dunia

- detikFinance
Senin, 19 Nov 2007 11:34 WIB
Cape Town - Menteri-menteri keuangan dari 20 negara besar yang tergabung dalam G-20 berkumpul di Afrika Selatan pada 17-18 November 2007. G-20 mengeluarkan peringatan mengenai tingginya risiko dalam pertumbuhan ekonomi global dan inflasi.

G-20 juga sempat menyoroti China yang tidak kunjung melepas yuan ke mekanisme pasar. G-20 meminta adanya fleksibilitas nilai tukar dari negara yang memiliki surplus neraca pembayaran yang cukup besar, seperti China. Namun pada deklarasi akhirnya tidak menyebutkan secara spesifik soal revaluasi yuan.

Menteri Keuangan Prancis, Christine Lagarde, mengatakan G-20 tidak menunjuk secara spesifik satu mata uang. "Kami semua berkesimpulan bahwa soal mata uang ini memerlukan pendekatan secara bersama. Kami tidak ingin menuding salah satunya, dan kami ingin dilakukan secara konsensus," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

G-20 memperingatkan adanya perlambatan ekonomi global akibat krisis kredit macet di AS. "Pengaruh dan lamanya perlambatan ekonomi sulit untuk diprediksi," ujar pernyataan G-20 seperti dilansir BBC, Senin (19/11/2007).

Menteri Keuangan Sri Mulyani yang hadir dalam pertemuan itu, seperti dikutip situs resmi Depkeu, menyampaikan mengenai kondisi resiliensi keuangan Indonesia yang tetap terpelihara karena kecilnya exposure sistem keuangan domestik terhadap krisis kredit perumahan di AS sehingga relatif tidak terlalu terpengaruh.

Selain itu disampaikan pula mengenai pengaruh kenaikan harga minyak terhadap APBN yang relatif bersifat netral, dikarenakan meningkatnya pengeluaran pemerintah untuk subsidi bahan bakar yang dapat diimbangi oleh meningkatnya pemasukan pemerintah dari sektor energi alternatif seperti gas.

Menkeu juga menyampaikan mengenai reformasi Bretton-Woods Institutions yang diharapkan dapat memperbesar hak suara dan perwakilan negara-negara berkembang dalam IMF dan World Bank. Namun hingga saat ini belum mengalami kemajuan yang signifikan karena besarnya perbedaan pandangan di antara negara-negara anggota.

Selain Sri Mulyani, delegasi Bank Indonesia juga hadir, yang dipimpin oleh Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah dengan didampingi oleh Deputi Gubernur Senior Miranda Goeltom.

Delegasi Indonesia mengadakan pertemuan bilateral dengan beberapa negara anggota G-20 seperti Afrika Selatan, Argentina, Arab Saudi, Brazil, China, Italia, Kanada, Inggris, dan AS terkait dengan rencana pertemuan para menteri keuangan internasional di Bali pada tanggal 10-11 Desember 2007 untuk membahas mengenai inisiatif keuangan terkait isu perubahan iklim. Β  (ddn/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads