Saratoga Gandeng IFC dan CDC

Saratoga Gandeng IFC dan CDC

- detikFinance
Senin, 19 Nov 2007 17:07 WIB
Jakarta - Perusahaan investasi pengelola portofolio (private equity firm) Saratoga Capital menggandeng International Finance Corporation (IFC) dan Commonwealth Development Corporation (CDC) untuk pendanaan Saratoga Asia II LP.

Komitmen dana yang terkumpul mencapai US$ 90 juta dari beberapa investor yang dipimpin oleh IFC dan CDC. Dana tersebut ditargetkan untuk mencapai US$ 330 juta untuk selanjutnya akan diinvestasikan pada sektor infrastruktur dan sumber daya alam, seperti energi, minyak dan gas bumi, pertambangan, minyak kelapa sawit, telekomunikasi, pembangunan jalan tol dan pembangkit tenaga listrik.

"Kami bangga bahwa dua investor institusional terbesar dan terpercaya, IFC dan CDC, telah berkomitmen untuk menjadi investor utama kami. Langkah dan prestasi ini bagi kami merupakan jalan yang benar, dengan partner yang tepat dan dilakukan pada waktu yang sangat tepat (the right way, with the right partners, at the right time)," kata Pendiri dan Komisaris Utama Saratoga, Edwin Soeryadjaja dalam siaran pers, Senin (19/11/2007).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Edwin menilai ini merupakan babak baru tidak hanya untuk Saratoga, tetapi juga untuk
perusahaan investasi pengelola portofolio (private equity firm) di Asia Tenggara,
terutama Indonesia.

Bisnis Saratoga yang terfokus di Indonesia memiliki nilai transaksi yang besar dan
kuat terutama di sektor energi, pertambangan dan infrastruktur.

Sebagian besar peluang bisnis ini terfokus pada sumber daya alam, kekuatan bisnis Saratoga yang akan terus dipertahankan dan dikembangkan ke depan.

Saratoga adalah investor awal dari beberapa aset investasi ternama seperti PT Adaro Indonesia, grup produsen batu bara terbesar di Indonesia dan PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia, operator telekomunikasi fixed-line di wilayah Jawa Tengah.

Baru-baru ini, Saratoga juga memimpin dan merampungkan proyek bernilai lebih dari
US$ 600 juta dari konsorsium bank lokal untuk mendanai proyek pembangunan jalan tol
sepanjang 116 kilometer yang menghubungkan jalur komersil dan perdagangan terpadat
di provinsi Jawa Barat.

"Saratoga saat ini fokus untuk mencetak pertumbuhan bisnis yang cepat dan berkesinambungan dengan cara mengkombinasikan track record, hasil nyata serta kondisi ekonomi Indonesia yang semakin membaik, sehat dan kuat dibandingkan dengan masa sebelum krisis," kata Managing Director Saratoga, Sandiaga Uno.

Dalam beberapa tahun ini, setelah krisis keuangan Asia yang terjadi di tahun 1998, banyak investor global yang secara aktif berinvestasi di Australia, Cina, India, Jepang, dan Korea. Seiring dengan harga aset yang mulai meningkat di kawasan-kawasan tersebut dan mulai munculnya tantangan-tantangan baru, investor-investor ini kemudian mencari lahan baru untuk investasi.

"Pasar Australia terlalu ramai, sedangkan aset-aset di Cina dan India telah naik secara signifikan dan menawarkan return yang lebih kecil. Selain itu, lebih sulit untuk mendapatkan persetujuan dari regulator untuk transaksi-transaksi tertentu di Cina dan Korea. Dengan pengetahuan dan pendekatan yang tepat, Asia Tenggara, khususnya Indonesia, akan menjadi target investasi selanjutnya yang menguntungkan bagi investor," kata Sandiaga.

Enam perekonomian utama di Asia Tenggara yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina memiliki GDP/product domestic bruto (PDB) gabungan sebesar US$ 881 miliar dengan total penduduk sebanyak 551 juta orang.

"Tidak lama lagi, banyak orang akan menyadari telah melewatkan Asia Tenggara. Indonesia, tidak hanya merupakan perkonomian terbesar di kawasan tersebut, tetapi juga merupakan tujuan berinvestasi dengan potensi return terbesar untuk perusahaan investasi pengelola portofolio," Soeryadjaja.

(ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads