Terus-terusan PHK Karyawan, Ada Apa dengan Tokopedia?

Terus-terusan PHK Karyawan, Ada Apa dengan Tokopedia?

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 03 Jul 2026 17:06 WIB
Logo Tokopedia
Foto: dok. Tokopedia
Jakarta -

Tokopedia kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran yang menyasar 90% pegawai. Setidaknya sudah tiga kali platform e-commerce tersebut melakukan perampingan selama 2 tahun terakhir setelah mayoritas sahamnya diakuisisi ByteDance, induk usaha TikTok.

Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Budi Primawan mengatakan kebijakan efisiensi di masing-masing perusahaan anggota merupakan keputusan internal perusahaan. Hanya saja jika melihat tren secara umum, menurutnya industri e-commerce saat ini lebih mengedepankan profitabilitas dan keberlanjutan bisnis.

"Setelah bertahun-tahun berfokus pada pertumbuhan yang agresif, kini banyak platform mulai lebih menekankan efisiensi, profitabilitas dan keberlanjutan bisnis. Dalam fase seperti ini, penyesuaian organisasi maupun strategi bisnis menjadi hal yang cukup lazim dilakukan agar perusahaan dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan," kata Budi kepada detikcom, Jumat (3/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain industri e-commerce saat ini masih sangat kompetitif. Platform tetap terus berinvestasi pada teknologi, AI, logistik, pembayaran, keamanan dan pengalaman pengguna.

"Jadi efisiensi tidak selalu berarti mengurangi komitmen terhadap pasar, tetapi bisa menjadi bagian dari upaya mengalokasikan sumber daya secara lebih efektif," ucapnya.

ADVERTISEMENT

Pakar digital dan telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi mengatakan gelombang efisiensi yang dilakukan Tokopedia sejak 2024 mencerminkan perubahan besar yang sedang terjadi di industri digital. Kemudian ia melihat masih adanya proses penyesuaian pasca integrasi Tokopedia dan TikTok Shop.

"Restrukturisasi yang terjadi lebih dari sekali memunculkan pertanyaan apakah model bisnis hasil integrasi sudah berjalan sesuai harapan. Sangat mungkin masing-masing pihak akan semakin mempertegas fokus bisnisnya. TikTok memiliki kekuatan utama pada social commerce berbasis konten dan live shopping, sementara Tokopedia lebih kuat sebagai marketplace," ucap Heru dihubungi terpisah.

Selain itu, muncul faktor baru yang tidak bisa dihindari yaitu adanya pemanfaatan AI. Banyak fungsi yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga kerja, kini mulai dapat diotomatisasi mulai dari layanan pelanggan, pemasaran, analisis data, hingga operasional.

"Ini akan mengubah kebutuhan talenta di perusahaan digital sehingga pengurangan karyawan dilakukan," tuturnya.

Dengan PHK besar-besaran yang terjadi di Tokopedia, Heru berharap pemerintah dapat memberi perhatian serius terhadap tren ini. Jangan sampai sektor ekonomi digital yang selama ini menjadi salah satu motor pertumbuhan, justru menjadi penyumbang gelombang PHK baru.

"Presiden perlu mengkoordinasikan kementerian terkait seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk memantau perkembangan industri digital, membuka ruang dialog dengan pelaku usaha, serta menyiapkan langkah antisipatif agar efisiensi perusahaan tidak selalu berujung pada PHK. Jangan didiamkan seperti ini," ucap Heru.

Dari sisi keuangan, Tokopedia telah berbalik dari rugi menjadi untung dengan membukukan laba bersih sebesar Rp 600 miliar sepanjang 2025. Keberhasilan itu memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap kinerja keuangan entitas induknya, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).

Riwayat PHK Tokopedia

Tercatat Tokopedia telah melakukan PHK sejak Juni 2024. Saat itu beberapa bulan setelah transaksi dengan Tokopedia rampung, ByteDance melakukan PHK pertamanya terhadap sekitar 450 karyawan (setara dengan 9% dari total tenaga kerja gabungan saat itu). Alasannya untuk menghilangkan fungsi atau posisi ganda (duplicate functions) yang tumpang tindih akibat penggabungan tim TikTok Shop dan Tokopedia.

Kemudian pada Juli-Agustus 2025, ByteDance kembali melakukan PHK secara bertahap terhadap sekitar 420 karyawan Tokopedia. Langkah itu merupakan kelanjutan dari efisiensi struktural setelah ByteDance mengakuisisi mayoritas saham Tokopedia dan mengintegrasikannya dengan TikTok Shop.

Berbeda dengan gelombang pertama yang fokus pada posisi ganda di tim operasional/iklan, gelombang Juli-Agustus 2025 itu secara spesifik menyasar divisi Teknologi Informasi (IT), Customer Care dan tim Fulfillment (pemenuhan pesanan). Imbas dari pemangkasan tim fulfillment, layanan gudang titip barang (fulfillment by Tokopedia) mulai dikurangi skalanya seiring dengan perubahan fokus logistik perusahaan.

Media sosial kembali diramaikan dengan isu PHK massal Tokopedia pada awal Juli 2026. Akun Instagram @ecommurz menyebut ByteDance melakukan PHK di Tokopedia dan hanya akan menyisakan sekitar 10% karyawan di awal Juli 2026 ini.

Dikonfirmasi soal kabar PHK massal, TikTok menjelaskan bahwa pihaknya tengah melakukan penyesuaian organisasi riset dan pengembangan untuk mendorong pertumbuhan dan keberlanjutan bisnis perusahaan.

"Kami tengah menyelaraskan organisasi riset dan pengembangan pada ranah yang dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan bagi bisnis kami, komunitas kreator, dan penjual di platform kami," kata Juru Bicara TikTok kepada detikcom.

(aid/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads