Neraca Dagang RI Defisit, Mendag Sebut Gara-gara Harga Minyak

Neraca Dagang RI Defisit, Mendag Sebut Gara-gara Harga Minyak

Retno Ayuningrum - detikFinance
Kamis, 09 Jul 2026 18:00 WIB
Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat peti kemas di Terminal 3 Ekspor Impor, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (9/6/2026). Kesibukan pelabuhan mencerminkan peran penting perdagangan internasional dalam menopang perekonomian nasional.
Foto: Pradita Utama/detikFoto
Jakarta -

Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan sebesar US$ 1,61 miliar pada Mei 2026 sekaligus mengakhiri tren surplus neraca perdagangan Indonesia yang berlangsung selama 72 bulan berturut-turut. Menurut Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso, neraca perdagangan pada Mei hanya dipicu oleh fluktuasi harga minyak mentah dunia.

"Ya, kan, Maret-April harga minyak itu kan lagi (tinggi). Jadi sebenarnya, karena faktor harga, harga minyak yang sangat tinggi," ujar Budi saat ditemui di Trans Studio Mal Cibubur, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).

Budi menargetkan kondisi defisit ini hanya bersifat sementara. Ia optimistis neraca perdagangan akan kembali surplus pada bulan-bulan mendatang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mudah-mudahan bulan depan sudah rendah lagi ya (defisitnya)," jelas Budi.

Kendati begitu, Budi menjelaskan secara kumulatif pada Januari-Mei 2026 Indonesia masih membukukan surplus sebesar US$ 4,03 miliar. Surplus tersebut ditopang oleh surplus perdagangan nonmigas sebesar US$ 16,31 miliar yang mampu mengimbangi defisit migas sebesar US$ 12,28 miliar.

ADVERTISEMENT

"Jadi hanya bulan Mei saja (defisit), tapi Januari-Mai ya, secara kumulatif tetap surplus, dan ekspornya tetap naik," tambah ia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit neraca perdagangan terjadi karena impor lebih besar dari ekspor. Tercatat pada Mei 2026 impor Indonesia mencapai US$ 24,81 miliar atau naik 22,16% secara tahunan, sedangkan ekspor mencapai US$ 23,20 miliar atau turun 5,73% secara tahunan.

Defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 terutama berasal dari komoditas migas yang minus US$ 3,76 miliar. Lebih rinci dijelaskan, penyumbang defisit komoditas migas yaitu dari hasil minyak dan minyak mentah. Meski begitu, neraca perdagangan non migas masih mencatat surplus sebesar US$ 2,5 miliar.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads