S&P Soroti Utang dan Rupiah, Tapi Beri Outlook RI Stabil

S&P Soroti Utang dan Rupiah, Tapi Beri Outlook RI Stabil

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 13 Jul 2026 16:56 WIB
Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2024. Pertumbuhan ekonomi RI diproyeksi 5,1 persen dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,9 persen.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Lembaga pemeringkat internasional, S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Prospek (outlook) Indonesia juga tetap berada pada level stabil.

Berdasarkan laporannya, S&P menyatakan pelemahan sejumlah indikator ekonomi Indonesia dari sisi fiskal maupun eksternal masih bersifat sementara dan berpotensi membaik dalam beberapa tahun ke depan. Hal itu seiring kenaikan harga komoditas dan upaya pemerintah meningkatkan penerimaan negara.

"Pada 13 Juli 2026, S&P Global Ratings menegaskan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Outlook peringkat jangka panjang tetap stabil," tulis laporan S&P, Senin (13/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

S&P menilai posisi fiskal dan eksternal Indonesia mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut dipicu oleh tingginya harga energi, kenaikan suku bunga global, pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya ketidakpastian kebijakan, serta akumulasi utang.

Meski demikian, S&P menilai tekanan tersebut tidak bersifat permanen. Perbaikan harga komoditas serta langkah pemerintah dalam mengendalikan belanja dinilai berpotensi membantu memperkuat kembali kondisi fiskal dan eksternal Indonesia.

ADVERTISEMENT

S&P juga menyoroti berbagai upaya pemerintah dalam memperbaiki tata kelola sektor sumber daya alam dan mineral. Langkah tersebut dinilai berpotensi meningkatkan penerimaan negara dan kinerja ekspor dalam jangka panjang.

S&P memperkirakan ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh 5,1% pada 2026, sebelum mencatatkan pertumbuhan rata-rata 4,9% per tahun sepanjang 2026-2029. Prospek tersebut ditopang oleh belanja fiskal, program hilirisasi, serta penguatan pengelolaan sektor sumber daya alam.

"Kami meyakini upaya pemerintah untuk memusatkan pengelolaan serta mengurangi kebocoran di sektor sumber daya alam dan mineral pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan negara dan penerimaan ekspor, terutama apabila implementasi kebijakan semakin membaik," tulis S&P.

(aid/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads