Adaptasi digital dan inovasi produk menjadi kunci bagi banyak UMKM untuk berkembang. Hal itu dirasakan Kreatifafa dan Batik Farras yang berhasil membawa produk lokal menembus pasar internasional tanpa meninggalkan identitas bisnisnya.
Salah satu kisah datang dari Kreatifafa, penerbit independen asal Yogyakarta yang didirikan Fatchul Hidayah (33) bersama sang suami, Achmad Fathurrohman. Siapa sangka, usaha yang berawal dari kegiatan sederhana bersama anak-anak di teras rumah kini mampu menjangkau pasar global.
Awalnya, enam tahun lalu, ia dan suaminya rutin mengajak anak-anak di lingkungan sekitar untuk menggambar, membaca, dan bermain. Dari kegiatan tersebut lahir berbagai materi belajar sederhana yang kemudian berkembang menjadi buku anak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Titik balik terjadi ketika ia memperoleh beasiswa magister ke Afrika Selatan. Berbekal tabungan pribadi, ia dan suaminya memproduksi buku pop-up sebagai kenang-kenangan untuk komunitas sekitar. Respons positif yang diterima justru membuka peluang usaha yang lebih besar hingga akhirnya Kreatifafa resmi berdiri sebagai badan usaha pada 2023.
"Awalnya memang tidak business-oriented, tapi kami ingin lebih banyak anak bisa membaca buku yang bagus, baik secara substansi maupun kualitas produksi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (14/7/2026).
Transformasi Jadi Kunci untuk Menembus Pasar Internasional
Kini Kreatifafa tidak hanya menerbitkan buku anak, tetapi juga mengembangkan bisnis berbasis Intellectual Property (IP) melalui berbagai produk seperti merchandise, board game, hingga karakter animasi. Produknya bahkan telah dipasarkan ke Jerman, Uni Emirat Arab, Malaysia, serta dijual melalui berbagai platform e-commerce.
Seiring bisnis yang terus berkembang, ia mulai memanfaatkan berbagai layanan digital untuk mendukung operasional usaha. Selain menggunakan fasilitas pembiayaan guna meningkatkan kapasitas produksi, transaksi harian kini dilakukan melalui QRIS dan dompet digital ShopeePay untuk membayar berbagai kebutuhan operasional.
"Ini adalah proses learning by doing. Membangun usaha bukan hanya soal memperbesar penjualan, tetapi memastikan setiap pertumbuhan memiliki fondasi yang kuat untuk jangka panjang," tambahnya.
Foto: Dok. Istimewa |
Cerita serupa datang dari Batik Farras di Yogyakarta. Usaha keluarga yang telah berdiri sejak 2006 itu awalnya mengandalkan penjualan secara konvensional. Namun, perubahan perilaku konsumen mendorong Daery Farras (26) mulai memanfaatkan kanal digital untuk memperluas pasar.
"Dulu kita fokus ke penjualan konvensional, langsung tatap muka. Karena digitalisasi, sekarang kita mulai merambah ke platform digital termasuk e-commerce," katanya.
Meski begitu, Batik Farras tetap mengombinasikan empat toko fisik di Yogyakarta dengan etalase digital karena pergerakan stok batik yang cukup cepat. Strategi tersebut terbukti efektif. Dengan sekitar 30 tenaga kerja,
Batik Farras kini mampu mencatat omzet hingga Rp150 juta per bulan. Digitalisasi juga mendorong diversifikasi produk melalui peluncuran outer dan jaket batik untuk menjangkau pasar yang lebih muda.
Fleksibilitas Transaksi Jadi Kunci
Foto: Dok. Istimewa |
Menurutnya, kemudahan transaksi juga menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga loyalitas pelanggan. Banyak konsumennya memilih menggunakan dompet digital seperti ShopeePay karena adanya berbagai promo potongan harga maupun voucher.
"Bagi kami, menjaga relevansi produk tidak harus mengubah identitas usaha. Terkadang, yang berubah hanyalah cara sebuah produk menemukan orang yang tepat," pungkasnya.
Perjalanan Kreatifafa dan Batik Farras menunjukkan bahwa UMKM lokal memiliki peluang untuk berkembang lebih luas jika mampu terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar. Inovasi produk yang dibarengi transformasi digital menjadi modal penting agar usaha tetap relevan dan mampu bersaing, bahkan hingga pasar internasional.
Tonton juga video "BNI Punya 8 Financial Center Jembatan Bisnis Tembus Pasar Global"
(akd/ega)











































