Hal ini disampaikan oleh Direktur Marketing PT Honda Prospect Motor (HPM) Jonfis Fandy di sela acara 'Honda Green Initiative Experience' di Pabrik HPM, Karawang, Jawa Barat, Sabtu (31/11/2007).
"Kenaikkan harga minyak dan rupiah yang melemah tidak menguntungkan kami, apalagi jika kita melakukan transaksi dengan Jepang, lemahnya rupiah memberatkan kami," jelasnya.
Pergerakan rupiah memang aneh dan terkadang tak seirama dengan mata uang lainnya. Nilai tukar rupiah pekan ini sempat merosot hingga level 9.400 per dolar AS. Padahal mayoritas mata uang, terutama euro dan yen justru justru sedang mencatat penguatan atas dolar AS.
Pelemahan rupiah itu, menurut Jonfis, menjadi salah satu faktor pendorong kenaikan harga mobil. Rencananya, Honda pun akan menaikkan harga produknya sekitar 2-3%.
"Tapi selain kami, semua produsen otomotif di Indonesia juga akan menaikkan harga jual produknya akibat kondisi ini, kami berharap hal ini dapat kami atasi," jelasnya. (dnl/qom)










































