Hal ini merupakan hasil kajian yang dilakukan Australia Indonesia Governance Research Partnership yang dipaparkan dalam 'Australia Indonesia Policy Research Forum' di Hotel Four Season, Jakarta, Senin (3/12/2007).
"Harusnya tidak ada perlakuan khusus untuk satu industri. Akibatnya, bisa mengurangi foreign investment di banyak industri lainnya," kata Peneliti CSIS Dionisius Nardjoko dalam jumpa persnya.
Rekomendasinya itu didapat setelah melakukan kajian pada industri manufaktur di Indonesia terutama setelah krisis. Dalam penelitiannya ia mencermati bahwa setelah krisis, pertumbuhan industri manufaktur yang sebelumnya sampai 10%, drop hingga tinggal 5%.
"Padahal sebelumnya industri ini merupakan penggerak ekonomi, namun setelah krisis industri ini berada di tataran bawah pasar global. Setara dengan Filipina dan Vietnam," katanya.
Meskipun ia merekomendasikan kebijakan menyeluruh yang tidak fokus pada satu industri saja, ia mengakui perlu ada penekanan kebijakan untuk beberapa industri. Seperti untuk industri yang padat karya perlu penekanan kebijakan yang melonggarkan masalah buruh. (lih/qom)










































