66 Kepala Dapur MBG Dipecat!

66 Kepala Dapur MBG Dipecat!

Retno Ayuningrum - detikFinance
Jumat, 07 Agu 2026 17:53 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono
Foto: Retno Ayuningrum
Jakarta -

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyampaikan sebanyak 66 Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam proses pemberhentian secara tidak hormat. Hal ini berarti, puluhan kepala dapur yang menjalankan program makan bergizi gratis (MBG) terancam tak lagi menyandang status Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

"Per hari ini kami telah memproses pemberhentian dan pembinaan SPPI atau Kepala Dapur, 66 kasus dalam proses pemberhentian. Jadi, diberhentikan secara tidak hormat," ujar Sudaryono dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026).

Sudaryono menjelaskan pemberhentian secara tidak hormat ini karena pegawai-pegawai tersebut melakukan tindakan indisipliner. Ia membeberkan sejumlah tindakan indisipliner yang dilakukan kepala dapur MBG, mulai dari penipuan, terlibat judi online, hingga hengki pengki.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi, diberhentikan secara tidak hormat karena apa? Karena tindakan indisipliner, tidak berada di tempat lebih dari 10 hari secara berturut-turut, kemudian ada kejadian phishing, yaitu tadi mengaku duitnya hilang karena scam dan lain-lain. Kemudian ada juga yang terlibat judi online, dan juga ada yang kemudian terbukti melakukan tindak pidana hengki pengki," tambah ia.

ADVERTISEMENT

Menurut Sudaryono, Badan Kepegawaian Negara sudah memproses pemberhentian kepada puluhan pegawai tersebut. Adapun 66 kasus kepala SPPG ini tersebar di Jawa Barat 29 kasus, Jakarta & Banten sebanyak 19 kasus, Jawa Tengah 12 kasus, Jawa Timur 27 kasus, Sumatera 21 kasus, Kalimantan 9 kasus, Sulawesi 4 kasus, dan wilayah lainnya 5 kasus.

Tak hanya itu, sebanyak 60 kasus masih dalam pembinaan internal. Sudaryono menyebut pihaknya masih mengecek konflik yang terjadi antara Kepala Dapur dan MBG.

"Pembinaan internal ini sebagian besar itu adalah karena terjadinya konflik antara mitra yang punya dapur berkonflik dengan Kepala Dapurnya. Siapa yang salah dan siapa yang keliru, itu yang kita lagi cek. Apakah Kepala Dapurnya neken-neken mitra minta fee, atau mitranya yang neken-nekan Kepala Dapurnya misalnya minta untuk pengurangan atau minta keuntungan lebih sehingga ada pengurangan kualitas dari makanan yang disediakan, ini kami cek semua," beber Sudaryono.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads