Pada awal 2007 saat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meneliti dampak kenaikan BBM pada 2005, pendapat nelayan turun drastis.
"Biaya untuk melaut semakin besar sehingga mereka harus mengurangi komsumsi BBM dengan mengurangi jarak tempuh sampai mengganti mesin yang mengurangi bahan bakar minyak tanah," ujar tim peneliti pusat penelitian ekonomi LIPI Maxensius Tri Sambodo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sektor lain yang diteliti yakni transportasi. Adanya kenaikan tarif, terjadi penurunan jumlah penumpang, sehingga menurunkan pendapatan.
Sedangkan bagi UMKM, dengan tingginya biaya BBM, biaya produksi meningkat sehingga jumlah produksi menurun dan omset menurun.
LIPI meneliti hal tersebut pada awal 2007 di 3 lokasi yakni di Semarang, Cilacap, dan Bengkulu. 3 Lokasi dipilih untuk diteliti karena memiliki 3 sektor yang mendukung penelitian yakni nelayan, transportasi dan UMKM.
Untuk itu, Max menyarankan pemerintah jika ingin menaikkan BBM pada 2008 atau 2009 sebagai dampak naiknya harga minyak mentah dunia, sektor nelayan, transportasi dan UMKM harus diperhatikan.
Untuk nelayan, imbuh Max, pemerintah sebaiknya mengawasi pelelangan ikan dan memperkuat lembaga koperasi nelayan, SDM dan peralatan.
"Jangan harga BBM-nya saja yang naik tapi harga ikannya juga ikut dinaikkan," saran Max.
Pada sektor transportasi, pemerintah harus melakukan mekanisme intensif untuk peremejaan kendaraan publik, dan pengaturan angkutan liar.
Sedangkan pada sektor UMKM, menurut Max, sebaiknya adanya ketersediaan energi alternatif yang memadai dan penerapan teknologi tepat guna untuk efisiensi BBM dalam proses produksi. (nik/nrl)










































