Mendag Pede Neraca Dagang RI Lanjut Surplus hingga Akhir Tahun

Mendag Pede Neraca Dagang RI Lanjut Surplus hingga Akhir Tahun

Retno Ayuningrum - detikFinance
Rabu, 02 Sep 2026 12:36 WIB
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso/Foto: Retno Ayuningrum/detikcom
Jakarta -

Neraca perdagangan Indonesia kembali surplus pada Juli 2026 setelah sempat mengalami defisit pada Mei dan Juni 2026. Pada Juli, neraca dagang Indonesia surplus US$ 120 juta.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso optimistis tren positif neraca perdagangan terus berlanjut. Apalagi, Indonesia pernah mencetak surplus hingga 72 bulan berturut-turut.

"Sehingga Januari-Juli kita ekspor kita kan (tumbuh) 4,43%. Nah, kita harapan kita ya sampai seterusnya menjadi surplus lagi," ujar Budi dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (2/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Budi, salah satu faktor yang menyebabkan defisit neraca perdagangan pada Maret-April karena tingginya harga minyak dunia di atas US$ 100 per barel.

ADVERTISEMENT

"Ya mudah-mudahan harga minyak ini terkontrol karena kebutuhan kita kan juga cukup besar. Sementara itu, memang surplus nonmigas kita terus berjalan. Kita kan karena defisit migasnya saja, tapi surplus nonmigas tetap jalan ya," beber ia.

Saat ditanya apakah surplus ini bisa bertahan hingga akhir tahun, Budi ingin agar tren tersebut terus berlanjut.

"Ya, kita, kita target kita begitu. Kita maunya nggak sampai akhir tahun, sampai seterusnya, ya surplus terus," jelasnya.

Untuk memastikan neraca perdagangan tetap aman dan terus surplus, Kementerian Perdagangan tidak hanya mengandalkan faktor harga minyak. Budi menekankan pentingnya menggenjot kinerja ekspor nasional agar surplus sektor nonmigas terus meningkat secara signifikan.

"Jadi kita harus tetap meningkatkan ekspor kita. Bagaimana kita meningkatkan ekspor kita sehingga surplus nonmigas harus terus naik lebih besar," imbuh ia.

Sebelumnya, Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 surplus sebesar US$ 120 juta. Surplus neraca perdagangan terjadi karena ekspor lebih besar dibandingkan impor.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan ekspor Indonesia pada Juli 2026 sebesar US$ 26,22 miliar, naik 6,05% dibandingkan Juli 2025. Sementara impor Juli 2026 sebesar US$ 26,09 miliar atau meningkat 27,02% dibandingkan dengan Juli 2025 dengan nilai impor Migas sebesar US$ 3,77 miliar atau meningkat 49,91% secara tahunan.

"Pada kondisi Juli tahun 2026 nilai ekspor mencapai US$ 26,22 miliar atau naik sebesar 6,05% dibandingkan dengan Juli tahun 2025. Nilai ekspor migas tercatat senilai US$ 0,79 miliar atau turun sebesar 14,58%. Untuk nilai ekspor nonmigas tercatat mengalami kenaikan sebesar 6,84% dengan nilainya US$ 25,43 miliar," katanya dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2026).

Lihat juga Video Pramono Paparkan APBD Jakarta Surplus Rp 3,89 T

(rea/ara)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads