Demikian temuan International Finance Corporation (IFC) dan Trucost yang disampaikan dalam siaran persnya yang diterima detikFinance, Selasa (11/12/2007). Riset tersebut diambil dari perusahaan di bursa yang masuk dalam MSCI Asia ex Japan Index dan 90 dana investasi individual Asia.
"Pendorong utamanya adalah kenyataan bahwa para investor memilih mendanai perusahaan yang lebih intensif karbon daripada rata-rata karbon disektor terkait," ujar Direktur Pembangunan Lingkungan dan Sosial Rachel Kyte.
Menurut Rachel, para manajer investasi sebenarnya bisa mengurangi kontribusi karbon tanpa mengurangi keuntungan dari portofolio dengan merealokasikan aset-asetnya. Bahkan keuntungan yang didapat bisa berkelanjutan.
"IFC yakin bahwa sektor swasta mempunyai peranan penting dalam mitigasi perubahan iklim. Di dunia dimana karbon dibatasi ini merupakan investasi dan bisnis berkelanjutan," ujarnya.
Untuk itu para manajer investasi diharapkan dapat menyesuaikan investasinya untuk mengurangi risiko dari perusahaan-perusahaan penghasil karbon tanpa perlu menurunkan keuntungan.
Menurut Chief Executive dari Trucost, Simon Thomas penelitian ini adalah tinjauan pertama mengenai perusahaan penghasil karbon yang sahamnya terdaftar di bursa Asia. Diharapkan riset ini memberikan informasi yang berguna bagi para investor. Seiring dengan kebijakan pemerintah yang makin membatasi emisi gas rumah kaca dan menetapkan harga karbon.
"Para investor juga diharapkan semakin memperhitungkan masalah emisi ini dalam strategi investasi mereka sambil tetap mempertahankan kinerja portofolionya," kata Thomas.
Penemuan riset tersebut antara lain adalah pertama, jejak pencemaran karbon dari perusahaan dalam MSCI Asia ex Japan Index menunjukkan per US$ 1 juta ternyata menghasilkan 620,99 ton gas rumah kaca.
Kedua, dari 90 perusahaan dana yang dianalisa sebesar 90% berlokasi di China, Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Pakistan, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand. Perusahaan-perusahaan itu bertanggungjawab atas emisi tahunan lebih dari 40,6 juta metrik ton gas rumah kaca yang diukur setara dengan emisi karbondioksida (CO2).
Ketiga, jejak polusi karbon gabungan dari 90 perusahaan tersebut adalah sebesar 823,34 ton emisi gas rumah kaca per US$ 1juta investasi. Sebesar 54 dari perusahaan itu memiliki masalah pengeluaran karbon yang lebih besar dari MSCI Asia ex Japan Index. Keempat, dari jumlah 90 perusahaan itu yang emisi karbonnya kecil adalah 29 per ton per US$ 1 juta investasi.
(ard/ir)










































