Dua raksasa media asal Amerika Serikat (AS), Paramount Skydance dan Warner Bros. Discovery (WBD), secara resmi akan melangsungkan penggabungan unit usaha alias merger setelah berhasil menuntaskan gugatan antimonopoli di 12 negara bagian melalui jalur negosiasi.
Rencana merger ini membuat karyawan dari kedua perusahaan merasa waswas. Sebab penggabungan dua perusahaan besar ini menimbulkan potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, menimbulkan persaingan antar karyawan dari kedua usaha agar terbebas dari sasaran pemangkasan.
"Akan sangat kompetitif untuk melihat layanan dan tim mana yang akan bertahan. Beberapa insinyur dan tim hebat melakukan pekerjaan yang sangat mirip dengan kami," kata seorang manajer layanan streaming Paramount, seperti dikutip dari Business Insider, Kamis (24/9/2026).
Untuk diketahui, kesepakatan Paramount untuk membeli WBD senilai US$ 110 miliar atau Rp 1.968,56 triliun (kurs Rp 17.896 per dolar AS) memberikan perusahaan hasil merger ke depan memberikan kendali atas sejumlah besar aset media seperti HBO, CBS, CNN, TNT, dan MTV. Sedangkan untuk layanan streaming perusahaan akan menaungi platform Paramount+, HBO Max, Discovery+.
CEO Paramount Skydance, David Ellison, mengatakan dalam sebuah memo kepada karyawan bahwa aksi merger ini diharapkan dapat selesai dalam kurun waktu sekitar dua minggu. Namun ia belum bisa memastikan bagaimana penggabungan dua usaha ini terhadap nasib para pekerja ke depan.
"Saya tahu Anda memiliki pertanyaan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Peran Anda, tim Anda, dan bagaimana kita akan bekerja sehari-hari. Kita belum memiliki semua jawabannya, dan saya tidak akan berpura-pura sebaliknya," tulis Ellison dalam memo tersebut.
Di sisi lain, Ellison telah menjanjikan penghematan biaya sebesar US$ 6 miliar atau Rp 107,37 triliun kepada para investor setelah melakukan kesepakatan merger dengan WBD. Padahal melalui aksi merger tersebut akan ada tumpang tindih aset serupa milik kedua perusahaan.
Kondisi inilah yang akhirnya membuat analis dan para karyawan memperkirakan adanya pemangkasan. Karena perusahaan gabungan tersebut akan memiliki dua kelompok tim serupa dari Paramount dan WBD termasuk insinyur perangkat lunak, tim pemasaran, dan kelompok penjualan iklan.
"Saya melihat perang internal lain terkait teknologi yang digunakan sedang terjadi," kata seorang staf senior WBD di bidang streaming.
"Penyelesaian tersebut dapat membantu mengakhiri semua drama, meskipun hal ini akan menimbulkan sedikit kecemasan di kedua belah pihak sampai situasi menjadi jelas terkait dengan langkah PHK," kata seorang staf senior Paramount yang bekerja di bagian streaming.
Secara keseluruhan, lima dari delapan karyawan di Paramount dan WBD yang diwawancarai Business Insider setelah penyelesaian rencana merger tersebut mengatakan bahwa mereka merasa khawatir tentang status pekerjaan mereka seiring dengan penggabungan kedua perusahaan.
Simak juga Video 'Kemnaker: PHK Tembus 43 Ribu hingga Juni, Manufaktur Paling Terdampak':
(igo/fdl)