"Sudah kita selesiakan, Total sudah setuju, pricingnya b to b. Masa mau subsidi lagi, mana kita kuat. Subsidi kita sudah banyak begitu," katanya.
Menurut Purnomo, baik Total dan konsumen gas masih punya fleksibilitas dalam menentukan harga gasnya karena masih lebih murah dibandingkan harga solar yang US$ 15/mmbtu,
"Dengan harga solar yang US$ 15/mmbtu, mereka punya fleksibilitas untuk negosiasi karena harga gas bisa lebih rendah dari itu. Mungkin 10 atau berapa," katanya.
Untuk itu, pemerintah membuka kesempatan bagi siapapun konsumen dalam negeri yang berminat. Baik itu PLN, PGN ataupun industri swasta.
Menurut Purnomo, volume 1,5 juta ton atau setara 250 mmbtu per hari itu termasuk besar jika dibandingkan gas yang masuk dari lapangan-lapangan gas di Sumatera Selatan yang sekitar 650 mmbtu per hari atau hampir 5 juta ton per tahun.
Ia juga menegaskan, bahwa defisit gas domestik tidak bisa dilihat secara makro, melainkan kasus per kasus. Karena defisit gas di satu daerah tidak bisa begitu saja dipenuhi jika sumber gasnya jauh.
"Misalkan kita punya gas di Kaltim, defisit di Sumatera Selatan. Bawa gas enggak gampang. Butuh transportasi, enggak bisa gelondongan," katanya.
(lih/ddn)










































