Kerugian yang terjadi imbas penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) tembus Rp 40 miliar. Bandara tersibuk di Indonesia itu sempat ditutup total operasionalnya imbas sebaran debu abu vulkanik Letusan Gunung Anak Krakatau.
Hal ini diungkapkan oleh Direktur Operasi PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) alias Injourney Airports Agus Haryadi. Kerugian sampai Rp 40 miliar merupakan perkiraan penutupan bandara selama dua hari.
"Kalau ngomong rugi, banyak ruginya. Rp 40 miliar ada kali dalam dua hari itu. Nah, tapi tentu kami tidak memikirkan itu," kata Agus dalam diskusi di Mercure Bandung, City Centre, Jawa Barat, Jumat (2/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Agus, penutupan bandara berkaitan dengan keselamatan penerbangan, tentunya opsi ini adalah pilihan sulit yang mesti diambil. Apalagi, hasil pemeriksaan yang dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan abu vulkanik memang cukup tebal.
"Bapak dan Ibu, tentu penutupan ini bukan opsi. Memang harus dilakukan. Tentu alasan pertamanya adalah alasan keselamatan, karena ini nyawa orang yang kita handle," sebut Agus.
Pertama Tutup Operasi Sejak 1992
Saat itu, Bandara Soekarno Hatta ditutup secara total pada 6 September 2026. Peristiwa ini pertama kali terjadi sejak tahun 1992, selama 35 tahun ke belakang tak pernah bandara yang berlokasi di Cengkareng itu mengalami penutupan total operasional.
"Sepanjang yang saya tahu, saya bekerja di Soekarno-Hatta dari tahun 1992, artinya sudah 35 tahun, ini belum pernah mengalami penutupan bandara secara total," kata Agus.
Baca juga: Angkasa Pura Angkat Kaki dari Bandara Dhoho |
Bahkan, saat masa pandemi COVID-19 pun, Bandara Soekarno-Hatta tak pernah ditutup secara total meskipun protokol kesehatan yang dilakukan sangat ketat.
"COVID-19 pun tidak tutup. COVID itu tidak tutup, status bandara itu open. Kalau ini kemarin itu benar-benar close," sambung Agus.
Penutupan Bandara Soekarno Hatta diperkirakan berdampak pada sekitar 130.000 penumpang. Bila ditambah dengan penutupan sejumlah bandara lain, termasuk Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Tanjung Karang, dan Bandara Husein Sastranegara Bandung, jumlah penumpang yang terdampak disebut mencapai lebih dari 200.000 orang.
"Penumpangnya mungkin yang terdampak ini sudah lebih dari 200 ribu," kata Agus.
Saksikan Live DetikSore:
(hal/ang)










































