Presiden Prabowo Subianto menyoroti perubahan kondisi global yang membuat instrumen ekonomi digunakan sebagai senjata. Ia mencontohkan mata uang, perdagangan ekspor-impor, hingga komoditas pangan yang kini menjadi senjata.
Ia menilai keadaan global saat ini penuh dengan kerawanan sehingga persoalan politik dan ekonomi tidak bisa dipisahkan. Hal tersebut menjadi salah satu pertimbangannya untuk merangkul berbagai kekuatan dalam menghadapi tantangan global.
"Sekarang mata uang jadi senjata. Sekarang ekspor-impor jadi senjata. Sekarang pangan menjadi senjata. Beras menjadi senjata. Jadi, bisnis tidak bisa kita pandang hanya murni bisnis," kata Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna, disiarkan YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (21/10/2026).
Prabowo juga menyoroti cara pandang kelompok elite Indonesia yang dinilai masih terkotak-kotak berdasarkan bidang keahlian masing-masing. Ia menduga persoalan tersebut tidak terlepas dari sistem pendidikan yang selama ini diterapkan.
"Kita harus koreksi diri, terutama dunia akademis kita, terutama profesor-profesor kita, yang bertanggung jawab di bidang pendidikan. Salah satu kelemahan dari bangsa Indonesia adalah bahwa elite kita, elite kita terkotak-kotak dalam silo-silo sektoral. Ini mungkin bersumber dari pendidikan kita," ujar Prabowo.
Padahal menurutnya, persoalan politik, ekonomi, sosial, dan pertahanan harus dipahami sebagai bidang yang saling berkaitan. Oleh karena itu, ia mendorong pembenahan sistem pendidikan agar tidak lagi terpaku pada satu bidang keilmuan.
"Nah ini saya kira dalam jangka panjang, saya berharap kita akan nanti perbaiki. Bahwa di ujungnya, pendidikan kita harus benar-benar integralistik, tidak bisa sektoral. Saya kira sektoral itu mungkin sampai di S1. S2, S3 sudah harus lebih multidimensional," tutup Prabowo.
Tonton juga video "Prabowo: Saya Bangga Jadi Pemimpinmu, Jadi Presidenmu!"
(ily/ara)