Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani melakukan inspeksi dadakan (sidak) ke sejumlah toko sembako kemitraan Bulog atau Rumah Pangan Kita (RPK) di Jakarta. Sidak ini dilakukan untuk memastikan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tidak dioplos dan dikemas ulang seperti kasus yang ditemukan beberapa waktu lalu.
Berdasarkan pantauan detikcom, Jumat (30/10/2026), Rizal bersama jajarannya melakukan sidak di salah satu RPK pada kawasan Kramatjati. Dalam sidak, Rizal bertanya kepada pemilik RPK terkait pembelian SPHP. Pemilik RPK bernama Imron mengatakan salam sepekan dia dapat membeli beras SPHP satu hingga dua ton.
"Kualitas yang medium ini, yang tadi saya bilang ke Pak Dirut, di sini nih rata-rata orang yang dagang... dagang nasi goreng, dagang lontong, warung-warung tegal ini, warteg-warteg, pada banyak yang pakai SPHP. Dia beli dari kita terus dipakai buat di warungnya," kata Imron saat ditemui di kawasan Kramatjati Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Kemudian di lokasi kedua, Rizal dan Tim Bulog melanjutkan sidak ke RPK yang berlokasi di kawasan Duren Sawit. Dalam kesempatan itu, pemilik RPK bernama Iding memastikan dirinya tidak mendapat kesulitan untuk mendapatkan beras SPHP. Namun, di depan Rizal, Iding mengeluhkan kualitas beras SPHP yang sebelumnya pernah dia dapatkan sempat kurang bagus. Meski begitu, kini kualitasnya diyakini telah membaik.
"Sekarang bagus pak kualitasnya, sebelumnya sempat kurang bagus tetapi tetap bisa dikonsumsi," ujar Iding kepada Rizal.
Rizal menyebut sidak ini dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan dari beras subsidi atau SPHP oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menemukan gudang beras di daerah Matraman Jakarta Timur yang diduga mengoplos beras SPHP. Lokasi kedua juga ditemukan tempat pengoplos beras SPHP di Pasar Induk Cipinang. Kemudian, Perum Bulog menelusuri temuan tersebut, hasilnya terdapat sejumlah oknum RPK yang ditemukan membeli beras SPHP dalam jumlah yang tidak wajar dalam sepekan.
Menurut Rizal, pemesanan berulang dalam waktu berdekatan semestinya menjadi perhatian petugas yang memantau transaksi melalui aplikasi Klik SPHP. Bulog kini mendalami mengapa pesanan tersebut tidak diwaspadai sejak awal. Kini, temuan dari Bulog telah diserahkan kepada Polres Jakarta Timur untuk ditindaklanjut.
(ada/hal)