Berdasarkan pengamatan Gabungan pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) hampir 25 persen produsen roti UKM mengalami kebangkrutan akibat kenaikan harga terigu.
"Harga bahan baku untuk roti sangat tinggi apalagi margarine dan minyak goreng juga ikut naik karena kenaikan harga CPO," ungkap Ketua Gapmmi Thomas Darmawan dalam perbincangannya dengan detikFinance, Selasa (8/1/2008).
Kenaikan harga terigu itu, menurut Thomas sangat memberatkan industri UKM yang bermodal pas-pasan. Lonjakan harga bahan baku dari Rp 80.000 per sak menjadi Rp 150.000 per sak semakin menggerogoti modal produsen roti kecil itu. Satu sak berisi 25 kg.
"UKM modalnya pas-pasan, tidak berani ngutang jadinya hasi jualan hari ini tidak cukup untuk membeli bahan baku untuk produksi besok karena harga terigu naiknya hampir setiap minggu," ungkap Thomas.
Hal senada disampaikan Mulyadi, Ketua Koperasi Karya Boga yang membawahi produsen roti di Jepara. Menurutnya, banyak produsen roti yang akhirnya beralih menjadi petani karena produksinya berhenti. Bantuan dari pemerintah berupa alat produksi tidak banyak membantu.
"Banyak yang alih profesi bertani karena kondisi ini. Mereka menunggu harga tepung stabil, dalam seminggu saja bisa naik 2-3 kali," keluh Mulyadi.
Sementara untuk menaikkan harga tidak memungkinkan karena harga roti produksi UKM saat ini masih belum cukup untuk menarik konsumen.
"Harga jual kita cuma Rp 500 perbuah, itu saja sering kembali karena tidak laku , apalagi dinaikin. Kalau dinaikin harganya pasti kalah dengan produsen roti yanglebih besar," ujarnya.
Menurutnya kondisi serupa juga tengah mendera di sentra roti lainnya, seperti di Kudus banyak yang gulung tikar.
Kondisi ini tak hanya terjadi di Indonesia. Negeri jiran Malaysia saat ini juga sedang dilanda kekurangan terigu. Asosiasi pemilik restoran India-Malaysia mengeluhkan lonjakan harga terigu yang menyebabkan mereka kesulitan.
"Tak akan ada lagi roti cane mulai minggu depan. Ini karena kami mulai kekurangan terigu," jelas Presiden Asosiasi tersebut, Ramalingam Pillai seperti dikutip dari AFP.
Ia menjelaskan, harga terigu di Malaysia naik dari 15-45%.
(arn/qom)











































