Pada awal tahun seharusnya permintaan minyak tanah rendah. Tapi yang terjadi sekarang justru permintaan membludak melebihi batas normal.
Deputi Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya menjelaskan, Pertamina tidak pernah mengurangi pasokan minyak tanah. Malah pernah menambah pasokan melalui beberapa operasi pasar.
Diduga kelangkaan minyak tanah terjadi karena terjadi disparitas harga minyak tanah subsidi dan non subsidi membengkak. Akibatnya, banyak minyak tanah subsidi yang disalahgunakan.
"Kami menemukan warga yang mengantri lebih dari satu kali. Bahkan stok di rumahnya melebihi kebutuhan normal. Ada sinyalemen ini dijual lagi," katanya dalam jumpa pers di kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (9/1/2008).
Ia memberi contoh, dengan harga minyak di pasar dunia sekitar US$ 100 per barel, harga minyak tanah di MOPS mencapai US$ 112/barel.
Jika dibawa ke Indonesia, harga keekonomian minyak tanah menjadi Rp 8.500 per liter. Sementara harga minyak tanah subsidi hanya Rp 2.000.
"Jadi bedanya sampai Rp 6.500 per liter," jelasnya.
Untuk menangani penyalahgunaan ini, menurut Hanung ada BPH Migas yang secara formal mempunyai tugas mengawasi penggunaan BBM subsidi.
"BPH Migas secara formal bertugas melakukan pengawasan. Tapi ternyata masih terjadi penyimpangan. Karena terjadi penyalahgunaan minyak tanah secara signifikan. Jadi ini saatnya bagi BPH Migas," tegasnya.
(lih/qom)











































