4 Masalah Serius Ekonomi RI 2008

4 Masalah Serius Ekonomi RI 2008

- detikFinance
Senin, 21 Jan 2008 10:45 WIB
Jakarta - Kondisi ekonomi Indonesia yang semakin siap untuk bergerak maju tetap dibayangi masalah yang cukup serius dan perlu sikap waspada untuk menghadapi risiko yang muncul.

Country Economist, Economic and Market Analysis, Citi Indonesia Anton Gunawan dalam Outlook 2008, Senin (21/1/2008), mengidentifikasi 4 masalah serius dalam perjalanan ekonomi Indonesia di 2008.

Keempat masalah serius itu adalah inflasi, penurunan produksi minyak, krisis listrik dan melemahnya nilai nominal mata uang rupiah. Sementara hal yang positif terjadi di pasar saham yang masih bisa menguat ditengah pasar yang bergejolak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kendala pertama, yaitu terjadinya tekanan inflasi yang lebih tinggi yang disebabkan oleh terbatasnya suplai, tingginya harga makanan, dan harga energi di tahun 2008.

Menurut Anton, meski sebelumnya pemerintah telah berjanji untuk mempertahankan harga BBM bersubsidi. Namun, bila terdapat kenaikan pada harga BBM tidak bersubsidi, hal ini akan memberi efek negatif terhadap kinerja sektor manufaktur yang tumbuh hanya sebesar 5%, bila dibandingkan dengan pertumbuhan dua digit pada masa sebelum krisis.

Untuk itu Anton menganggap perlunya Bank Indonesia untuk memperketat kebijaksanaan moneternya, bila tidak ingin melihat beralihnya arus dana ke luar negeri.

Kendala kedua, adalah produksi minyak yang menurun dan ditambah dengan meningkatnya kebutuhan BBM bersubsidi. Kedua hal ini akan memperberat posisi fiskal pemerintah.

Asumsi produksi minyak pemerintah di tahun 2008 sebesar 1,034 juta barel per hari tidak terlihat optimistis untuk bisa dicapai.

"Memburuknya posisi fiskal juga dapat membuat pemerintah mengambil langkah yang tidak populer dengan menaikan harga BBM bersubsidi dan harga listrik. Tentunya ini dapat mendorong naiknya inflasi dan menuju kebijaksaan finansial yang ketat. Efek dari ini mungkin tidak sebesar pada tahun 2005, tapi tetap saja bisa mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi," ujar Anton.

Kendala ketiga, Indonesia mendekati krisis listrik yang serius, sebagaimana krisis yang terjadi pada Mei 2007, dimana terdapat 94 lokasi krisis listrik di luar sistem Jawa-Bali-Madura.

Krisis ini terjadi akibat lambatnya pembangunan pembangkit listrik baru yang diperkirakan sebagian besar baru akan siap pada tahun 2010, sementara hanya beberapa saja yang dapat siap di akhir 2009.

Ini berarti dalam waktu satu atau dua tahun ke depan beberapa daerah dan industri harus menghadapi pemadaman. Pengiriman bahan pokok pembangkit listrik seperti batu bara, diesel, dan gas alam yang tersendat-sendat membuat situasi ini semakin parah.

Kendala keempat, kemungkinan melemahnya nilai nominal mata uang, namun terjadi penguatan pada nilai rillnya seiring dengan membaiknya aktifitas ekonomi dan terus tingginya harga minyak di tahun depan. "Ketidak pastian hukum akan terus berlanjut menghantui stabilitias institusi dan pasar finansial," ungkap Anton.

"Pada umumnya kami percaya bahwa prospek ekonomi fundamental yang lebih baik akan membantu kestabilan prospek kredit dan mata uang. Dalam dua tahun ke depan kami memperkirakan Indonesia akan memperoleh rating kredit yang lebih baik," kata Anton.

(ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads