Demikian survei PricewaterhouseCoopers yang dipresentasikan dalam World Economic Forum (WEF) yang berlangsung Davos, Swiss, seperti dikutip dari BBC, Rabu (23/1/2008).
Survei dilakukan atas 1.150 pebisnis utama dunia di 50 negara. Namun survei itu belum memasukkan gejolak pasar finansial dunia akhir-akhir ini karena dilakukan pada triwulan III-2007.
Secara keseluruhan, kepercayaan pebisnis di seluruh dunia turun. Namun separuh dari CEO yang disurvei masih mengklai 'sangat percaya diri' tentang masa depan bisnisnya. Khusus di Asia, kepercayaan pebisnis meningkat tajam, dengan 90% CEO dari India mengaku 'sangat percaya diri'.
"Krisis kredit dan pelemahan ekonomi di negara-negara Barat telah menciptakan perpecahan yang jelas dalam level kepercayaan CEO di seluruh dunia," ujar Samuel DiPiazza, Chief Executive PricewaterhouseCoopers.
Para pebisnis di negara-negara berkembang percaya bahwa mereka masih bisa melakukan ekspansi secara cepat. Pebisnis India tercatat paling percaya diri, disusul pebisnis dari Rusia dan China.
Di China, 73% chief executive sangat percaya diri perusahaannya akan berkembang dalam 12 bulan. Persentasenya naik dari 60% pada tahun lalu. Demikian pula pebisnis Rusia yang percaya diri meningkat pesat dari 35% menjadi 73%.
Angka itu sangat kontras dengan para pebisnis di Eropa Barat. Hanya 44% yang mengharapkan perusahaannya tumbuh, atau berarti turun 8%. Sementara di AS, hanya 36% yang sangat percaya diri, atau turun 18 poin dibandingkan tahun lalu sebesar 54%.
Yang paling buruk adalah para pebisnis Italia. Hanya 19% yang percaya bisnis mereka akan tumbuh. Padahal tahun lalu angkanya mencapai 52%.
"Kemungkinan pelemahan ekonomi berubah menjadi resesi paling besar mempengaruhi chief executive di negara yang sudah mapan seperti di AS dan Eropa," tambah DiPiazza.
Hal itu dikecualikan untuk Jerman, dimana 57% pebisnisnya masih percaya diri. Menurut DiPiazza, hal itu disebabkan karena kuatnya ekspor.
Selain masalah resesi, hal lain yang menjadi ancaman utama bagi pebisnis di seluruh dunia adalah masalah klasik soal peraturan.
Para pebisnis juga khawatir tentang kemungkinan mereka bisa merekrut dan mempertahankan orang-orang terbaiknya guna menjalankan roda bisnis.
Sedangkan masalah perubahan iklim yang tahun lalu menjadi topik hangat di Davos terlempar jauh dari daftar masalah yang paling mengancam pebisnis.Β (qom/ddn)











































