Demikian dikatakan Direktur Keuangan Pertamina Frederick Siahaan di kantornya, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Kamis (31/1/2008)."Penurunan ini disebabkan perbedaan asumsi harga minyak yang digunakan pemerintah di APBN. Pada 2007 rata-rata harga minyak Indonesia adalah US$ 72,6 per barel, sementara dalam APBN 2008 hanya US$ 60 per barel," jelas Frederick.
Pertamina juga menargetkan pendapatan perusahaan di tahun 2008 mencapai Rp 332,9 triliun. Dimana 75 persennya atau sekitar Rp 249,675 triliun disumbang sektor hilir dan sisanya dari sektor hulu.
"Hilir untuk pendapatan kontribusi 75 persen, tapi untuk laba kontribusi hanya 35 persen," kata Frederick.
Menurut Frederick, asumsi APBN sangat penting karena digunakan untuk transaksi Pertamina dengan pemerintah. Baik untuk transaksi subisdi maupun pembelian minyak mentah bagian pemerintah yang akan diolah di kilang Pertamina.
"Jadi kalau asumsi APBN diubah, asumsi kita juga berubah. Supaya pencapaiannya relevan. Kita memang sudah siapkan beberapa simulasi, tapi belum bisa kita jelaskan," katanya.
Selain itu, RUPS juga menetapkan total biaya yang akan dikeluarkan Pertamina tahun ini sekitar Rp 314 triliun, yang diperuntukkan biaya operasional, membeli minyak, pemasaran, dan lain-lain.
Sementara total investasi yang akan digelontorkan mencapai Rp 20,4 triliun dimana sekitar RP 11,6 triliun merupakan carry over proyek multiyears.
Untuk target produksi minyak mentah Pertamina di 2008 akan mencapai 65,72 juta barel setahun dan gas mencapai 438,05 miliar standar kaki kubik setahun.
Sedangkan volume penjualan BBM mencapai 56,8 juta KL, jumlah ini hanya naik sedikit dibanding tahun sebelumnya.
Β (lih/arn)











































