Program listrik 10 ribu MW diduga menjadi faktor pendorong utama permintaan baja di dalam negeri. Selain itu menguatnya rupiah pada akhir tahun lalu memicu derasnya baja impor RI.
Demikian disampaikan oleh Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka (ILMTA) Departemen Perindustrian (Depperin) Ansari Bukhari di gedung Depperin, Jakarta, Senin (4/2/2008).
"Memang saat ini proyek-proyek infrastruktur sedang menggeliat, termasuk program listrik 10 ribu MW," kata Ansari.
Tahun lalu total produksi baja RI hanya mencapai 4 juta ton, sedangkan kebutuhan baja domestik mencapai 7 juta ton.
Sedangkan total nilai impor baja tahun lalu mencapai US$ 4,17 miliar, sedangkan tahun 2006 hanya mencapai US$ 2,86 miliar, artinya ada kenaikan sekitar 45%.
Menurut Ansari, meningkatnya impor baja bukan hanya dipicu oleh hal-hal tadi tetapi ada beberapa faktor lain yang turut mempengaruhi.
Misalnya ia mencontohkan, rencana penerapan bea masuk anti dumping untuk beberapa jenis baja turut memicu kenaikan impor karena menurutnya bila itu diterapkan maka harga baja impor kena anti dumping akan tinggi.
"Idikasi adanya spekulasi tetap ada, terutama sebelum pemberlakuan BM anti dumping baja," paparnya.
Selain itu juga menurutnya adanya perkiraan kenaikan harga baja yang semakin tinggi pada tahun ini, turut memicu para produsen dalam negeri tidak mau ambil resiko sehingga mereka yang mengimpor lebih banyak pada tahun lalu.
Tahun 2008 ini diperkirakan lonjakan permintaan baja impor akan terus deras. Meningat kapasitas produksi baja domestik masih dibawah kebutuhan pasar dalam negeri.
(hen/qom)











































