Impor beras Indonesia tahun 2010 dan 2015 akan meningkat menjadi masing-masing 4,78 juta ton dan 7,07 juta ton. Impor ini akan menguras devisa masing-masing sebesar US$ 1,2 miliar dan US$ 1,8 miliar.
Hal ini disampaikan oleh mantan Direktur Utama ASEAN Aceh Fertilizer (AAF) Rauf Purnama dalam makalahnya di seminar 40 Tahun Fraksi Golkar DPR RI yang bertema "Mencegah Krisis dan Menjamin Ketahanan Pangan" di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (11/2/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam makalah tersebut dikatakan dengan jumlah penduduk yang sangat besar, masalah ketahanan pangan perlu mendapat prioritas utama.
"Penggunaan pupuk majemuk (NPK) dapat meningkatkan produktivitas sehingga Indonesia tidak lagi menjadi negara pengimpor beras," katanya.
Bahkan menurutnya, Indonesia bisa menjadi negara pengekspor karena terjadi surplus produksi 2010 dan 2015 sebesar masing-masing 800.000 ton dan 1,4 juta ton.
Untuk mencapai swasembada beras 2010-2015, kebutuhan pupuk majemuk di Indonesia paling tidak di 2010 sebesar 2,5 juta ton dan di 2015 sebesar 4 juta ton.
"Di negara-negara yang telah maju pertaniannya, kebutuhan pupuk majemuk cukup besar," ujarnya.
Disebutkan di makalahnya berdasarkan data tahun 2001, Thailand yang memproduksi beras 2,8 juta ton membutuhkan 3,5 juta ton pupuk majemuk. Vietnam dengan produksi beras 1,19 juta ton membutuhkan pupuk majemuk sebanyak 1,2 juta ton.
Sementara Indonesia yang produksinya 300 ribu ton tidak menggunakan pupuk majemuk sama sekali. (dnl/ir)











































