Hal tersebut disampaikan Direktur Utama PLN Eddie Widiono pada saat acara peluncuran bukunya yang berjudul 'Eddie Widiono di Bawah Pusaran Media', di Hotel Four Seasons, Sabtu malam, (16/2/200).
"Harga listrik panas bumi harus tetap menarik, artinya investor bisa untung tetapi di tingkat harga konsumen tidak keberatan membayarnya," ucap Eddie.
Menurutnya upaya yang paling bisa dilakukan adalah dengan melakukan pemilahan terhadap beberapa risiko yang dihadapi pengembang panas bumi, agar para pengembang tidak memperoleh risiko yang besar.
"Kalau risikonya terlalu besar maka mereka berpikir maka harus mendapat keuntungan yang besar pula, maka kalau seperti ini maka masyarakat tidak mampu membelinya," katanya.
Ia mencontohkan untuk bisa menekan risiko tersebut adalah dengan memberikan harga khusus untuk biaya pengeboran, mengingat pengembangan listrik panas bumi butuh upaya pengeboran.
"Untuk menyewa alat bor harus bersaing dengan alat bor yang dipakai juga untuk sektor migas, padahal migas sekarang sedang tinggi. Tentunya ada risiko besar untuk biaya sewa yang sangat mahal. Atau pemerintah, kalau perlu menugaskan PLN yaitu dengan menyediakan rate khusus untuk pengembang panas bumi dengan margin plus cost yang sedikit saja," harapnya.
Sehingga dengan demikian menurutnya risiko pengembang bisa turun termasuk risiko pajak. Rencananya ada akhir bulan ini pemerintah akan mengeluarkan peraturan menteri mengenai tarif listrik panas bumi yang besarnya diperkirakan mencapai 75% hingga 80% dari biaya pokok produksi.
Sehingga rencana sebuah perusahaan asal Islandia siap berinvestasi di sektor listrik panas bumi degan kapasitas 500 MW bisa segera terealisasi.
(hen/ddn)











































