Ekonomi Dunia Masuki Masa Sulit

Ekonomi Dunia Masuki Masa Sulit

- detikFinance
Selasa, 19 Feb 2008 11:19 WIB
New Delhi - Perekonomian dunia kini sedang memasuki masa-masa sulit. Krisis finansial telah merebak hingga ke sendi-sendi sektor riil.

Negara-negara industri dan berkembang pun harus saring berbagi kebijakan makro ekonomi dan pasar finansial untuk meminimalkan dampak krisis finansial yang telah menyebabkan perlambatan ekonomi itu.

Hal tersebut disampaikan Direktur Pelaksana IMF Dominique Strauss-Kahn dalam pidatonya di depan Indian Council of Research on International Economic Relation (ICRIR) di New Delhi, India seperti dikutip detikFinance, Selasa (19/2/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perekonomian dunia telah mamasuki masa-masa sulit, dimana krisis finansial telah menyebar hingga ekonomi riil. Ini telah menjadi masalah dunia yang memerlukan solusi global," ujarnya.

Strauss-Kahn menilai bahwa krisis finansial secara serius telah memberikan dampak terhadap makro ekonomi, dan tidak ada satupun negara yang mampu menghindarinya.

"Negara-negara berkembang perlu bergabung dengan negara-negara industri dalam respons kebijakan makro ekonomi dan peraturan. Misalnya kolaborasi untuk mendapatkan harapan terbaik guna menjamin stabilitas perekonomian global," imbuhnya.

Ia juga menjelaskan, krisis finansial baru-baru ini dimulai oleh masalah di sektor tunggal dalam perekonomian tunggal yakni pasar perumahan di AS. Namun masalah tunggal yang dihadapi institusi finansial itu kini telah menjadi masalah nasional, sebagaimana terlihat di AS. Dampaknya pun telah merebak hingga Eropa dan juga negara-negara berkembang.

Bank-bank sentral harus bekerja keras untuk terus menstabilkan ekspektasi inflasi.

"Sementara pemerintah juga perlu untuk menyebarkan kebijakan fiskalnya," tambah mantan Menkeu Prancis ini.

Sedangkan institusi finansial, kata Strauss-Kahn harus lebih transparan dan memperbaiki neraca keuangannya. Mereka juga harus menjamin investor dengan menaikkan modalnya plus memperbaiki likuiditas.

"Auditor dan supervisor perlu untuk menjaga konsistensi seluruh institusi dalam valuasi aset dan hapus buku terkait krisis," imbuhnya.


(qom/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads