Terigu komposit yaitu terigu yang dihasilkan dari campuran tepung gandum dan campuran tepung lainnya seperti tepung cassava, kentang dan lain-lain.
Langkah ini diharapkan bisa menekan harga terigu yang berpotensi akan naik karena harga gandum yang tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dulu harga terigu komposit lebih mahal dari terigu biasa, kalau sekarang dengan gandum yang tinggi justru terigu komposit lebih murah, jadi ini cukup relevan dengan kondisi sekarang," ungkapnya.
Menurut Franky sapaan Franciscus Welirang, bahwa dengan terigu komposit para produsen bisa menekan harga terigu bisa lebih murah. "Paling sedikit bisa tekan harga minimal 10%," katanya.
Namun ia juga mengakui untuk pengembangan terigu komposit masih terkendala dengan kualitasnya terutama soal aroma terigu komposit. "Misalnya terigu komposit yang dicampur oleh cassava, masih memiliki aroma apek. Tetapi dari segi citarasa dan penampakan sudah tidak ada masalah," tuturnya.
Selain itu juga pengembangan tepung cassava di dalam negeri belum maksimal. "Sekarang ini masih dibahas dalam laboratorium Universitas Brawijaya, terkait unsur terigu komposit, bahkan terigu komposit sejak tujuh tahun lalu sudah mulai diperkenalkan," ujarnya.
"Kalau harga tepung cassava tidak ikut naik, ini bisa menjadi alternatif dari terigu
komposit," tambahnya.
Sekarang ini produsen terigu masih mencoba untuk mengembangkannya, nantinya diharapkan kualitas terigu komposit secara aroma bisa lebih baik.
"Komposisi campurannya bisa mencapai 15% hingga 20% selebihnya tepung gandum atau yang lainnya," ujarnya. (hen/ir)











































