Inflasi Indonesia 2008 di Mata Pasar Masih Tinggi

Inflasi Indonesia 2008 di Mata Pasar Masih Tinggi

- detikFinance
Senin, 17 Mar 2008 14:58 WIB
Jakarta - Persepsi pasar terhadap inflasi 2008 masih tinggi yaitu antara 6,6% hingga 7,0%. Hal ini berdasarkan hasil survei oleh Bank Indonesia terhadap perkiraan ekonomi tahunan yang meliputi pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, pertumbuhan ekspor dan impor, defisit PDB dan lain-lain.
Β 
Hasil ini didasarkan pada survei yang dilakukan oleh BI pada triwulan keempat 2007 terhadap 100 responden. Meliputi ekonom, pengamat atau peneliti ekonomi, analis pasar uang/modal dan akademisi yang berada di 13 kota di seluruh Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Bandar Lampung, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Palembang, Denpasar, Banjarmasin, Makasar, Manado dan Kendari.
Β 
Demikian disampaikan oleh Direktur Statistik dan Ekonomi Moneter Triono Widodo dalam acara diskusi hasil survei Bank Indonesia (BI), di gedung Sjafrudin Prawiranegara BI, Jakarta, Senin (17/3/2008).
Β 
Berdasarkan hasil survei pasar tersebut pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 6,1% hingga 6,5%, inflasi 6,6% hingga 7%, nilai tukar rupiah terhadap dolar Rp 9.251 hingga Rp 9500, transaksi berjalan 1,5% hingga 3%, pertumbuhan ekspor 15,1% hingga 22,5%, pertumbuhan impor barang 7,6% hingga 15%, anggaran pemerintah defisit PDB 1,1% hingga 1,5% dan tingkat pengangguran 9% hingga 10%.
Β 
"Ini angka dari pasar, responden pakar, pelaku ekonomi, tentang inflasi, BI sabagai bank sentral yang memiliki target inflasi, targetnya mengarah kepada yang ditetapkan pemerintah. Sampai saat ini pemerintah masih tetapkan target awal tahun 5 plus minus 1% untuk tahun 2008. BI masih mengarah ke sana, walaupun pasar pesimis, tapi dari BI tetap akan berusaha seperti target yang ditetapkan pemerintah," ujar Triono
Β 
Menurutnya hal itu suatu hal biasa apakah pasar itu optimistis atau pesimistis, karena tentunya pasar melihat hal-hal seperti harga minyak, distribusi barang yang tidak lancar, banjir yang akan pasar produksi dan lain-lain.
Β 
"Sehingga pasar bisa saja pesimis dengan angka target pemerintah yang dilampaui 6,6% sampai 7%. Itu pasar, kebijakan moneter dan intervensi berusaha melakukan capaian inflasi yang ditargetkan," ungkapnya.
Β 
Menanggapi nilai rupiah yang diperkirakan pasar menguat terutama pada triwulan pertama namun faktanya justru melemah. Triono mengatakan bahwa hal itu boleh-boleh saja karena hal ini adalah persepsi pasar yang nantinya bisa buat masukan untuk kebijakan BI.
Β 
"Rupiah diramalkan menguat tapi kok melemah. Artinya jawaban mereka, ini bukan angka dari kami, walaupun BI bisa berpendapat lain. Tapi kami ingin melihat dari mereka. Pasar mengatakan seperti itu, banyak kejadian-kejadian sehingga bagaimana mereka berkesimpulan didaerahnya, subprime mortgage, subsidi, BBM dan lain-lain," ujarnya beralasan. (hen/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads