Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pergerakan harga minyak saat ini yang sudah menyentuh level US$ 111 per barel belum bisa dijadikan patokan untuk penentuan asumsi harga minyak di APBNP.
"Jadi nanti kita tidak bisa melihat (harga minyak dunia) sampai hari ini, tapi yang disebutkan tadi kalau asumsi mengenai lifting sudah akurat dan asumsi mengenai volume BBM dalam hal ini sudah disepakati dalam hal ini berarti volume BBM tadi sangat tergantung dari program atau caranya," jelasnya usai rapat kerja dengan DPD, di Gedung DPD, Senayan, Jakarta, Senin (17/3/2008).
Menkeu mengatakan program yang diajukan pemerintah saat ini adalah melakukan berbagai kontrol terhadap konsumsi BBM. "Sementara dengan DPR dan DPD ada berapa suara melakukan dengan cara lain, kan mereka menginginkan katakanlah seperti kenaikan BBM atau yang lain. Kita akan melihat di dalam 1 minggu ini kan, DPR dan DPD memiliki hak budget mereka melihat cara untuk mengurangi volume subsidi adalah melalui cara harga," tuturnya.
Dikatakan Menkeu untuk menentukan asumsi harga minyak pada APBNP 2008, pemerintah akan akan memperhitungkan estimasi dari volume keseluruhan penerimaan.
"Berapa jumlah yang harus kita jadikan basis untuk dana bagi hasil (DBH) untuk ditransfer ke daerah dan bagaimana kemudian pengaruhnya terhadap estimasi ke subsidi maupun ke penerimaan. Itu nanti akan dilihat semuanya, karena semuanya selalu satu jalan," katanya.
Sementara itu Ketua Panitia Anggaran DPR RI Emir Moeis mengatakan asumsi harga minyak yang sustainable untuk APBN P 2008 melihat perkembangan harga minyak dunia saat ini adalah US$ 100 per barel.
"Minyak itu perkiraan rata-rata adalah sebesar US$ 135 per barel tahun ini," ujarnya saat ditemui di sela-sela rapat Panja APBN P di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.
Sementara mengenai opsi menaikkan BBM untuk meringankan beban subsidi pemerintah, Emir mengatakan secara politis opsi ini sangat berat, karena sangat membebani rakyat.
"Kalau opsi naikkan BBM secara akademik memang harus (dinaikkan), tapi secara politis saya lebih berat tidak, karena kalau minyak dan pangan naik kan pendapatan masyarakat tidak naik. Pertumbuhan ekonomi 6 persen lebih di 2007 hanya dinikmati masyarakat menengah ke atas, jadi (masyarakat) di bawah ini sudah berat sekali. Nah sekarang kita cari bagaimana caranya naikkan BBM untuk yang kaya sedangkan yang miskin tidak, tapi inikan sulit," tutur Emir. (dnl/ir)











































