PT Aldevco sejak 1988 tidak pernah beroperasi karena tak ada bahan baku berupa aluminium cair dari PT Indonesian Asahan Aluminium (Inalum).
"Kita mau ambil, kalau tidak jadi anak usaha atau nanti digabung dengan Inalum. Inalum kan akan jadi milik pemerintah pada 2013," kata Sekretaris Menneg BUMN Said Didu disela-sela seminar petrokimia di Fotel Grand Hyatt, Jakarta, Selasa (18/3/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini seluruh aset Aldevco sedang diaudit oleh BPKP. Pengambilalihan pun akan segera dilakukan setelah audit BPKP selesai. "Kita tunggu hasil audit BPKP," katanya.
Hingga kini, pabrik Aldveco belum dapat dioperasikan sama sekali. Kondisi mesin dan peralatan dan instalasi listrik ikut menganggur.
Pendirian Aldevco di tahun 1980-an dimotori oleh mantan menteri perindustrian AR Soehoed. Tujuannya waktu itu agar Indonesia memiliki BUMN di sektor hilir aluminium.
Aldevco kini memiliki empat anak usaha yakni PT Asahan Aluminium Alloys (AAA) yang merupakan produsen aluminium paduan. PT Alumina Development Company (Aldevcom) yan bergerak di sektor pertambangan bauksit di Kalbar. PT Bumyagara Prawatya bergerak di pengelolaan hotel dan PT Inter Asia Commodities (IAC) perusahaan trading aluminium yang berbasis di Inggris. (lih/ir)











































