Demikian laporan FAO Price Index seperti dikutip dari situs FAO, Sabtu (5/4/2008). Harga beras internasional yang mengalami kenaikan pada Maret 2008 misalnya adalah untuk jenis Thai 100% B US$ 546 per ton. Harga itu berarti naik 13% dibanding harga Februari dan naik 68% jika dibandingkan Maret 2007.
"Pasar beras internasional saat ini menghadapi situasi yang benar-benar sulit dengan permintaan yang melampaui suplai serta kenaikan harga yang cukup signifikan," ujar ekonom senior FAO, Concepcion Calpe.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keputusan itu merupakan salah satu langkah yang diambil pemerintah India dalam memerangi inflasi. Keputusan itu diambil dalam sebuah sidang kabinet darurat. Keputusan itu langsung mempengaruhi harga beras di tingkat global karena India merupakan eksportir bijih-bijihan terbesar ketiga di dunia.
Namun menurut FAO, kecenderungan kenaikan harga itu akan berkurang dalam beberapa bulan kedepan dengan hadirnya panen raya di sejumlah negara seperti Brasil, Uruguay, Bangladesh, India, Indonesia, Thailand dan Vietnam.
FAO juga memperkirakan produksi beras internasional akan mencapai 12 juta ton atau naik 1,8%. Capaian itu dengan asumsi kondisi cuaca yang normal.
"Tingkat produksi beras yang lebih tinggi di tahun 2008 bisa mengurangi tekanan, namun gejolak jangka pendek kemungkinan akan berlanjut karena terbatasnya suplai. Ini akan memberikan implikasi bahwa pasar akan bereaksi dengan sangat kuat pada setiap berita baik atau buruk," imbuhnya.
(qom/qom)











































