"Kita tidak bisa memberikan sanksi. Itu haknya konsumen untuk membeli," kata General Manager Pertamina Unit Pemasaran BBM Retail Regional V, Maulanatazi HZ kepada wartawan seusai hearing dengan Komisi E DPRD Jawa Timur Jalan Indrapura, Surabaya, Senin (7/4/2008).
Menurut Maulanatazi, banyaknya kalangan industri yang menyerbu elpiji 12 Kg dikarenakan harga elpiji untuk rumah tangga jauh lebih murah daripada untuk industri. Untuk rumah tangga elpiji dihargai Rp 4.250 kg untuk satu kilogramnya, sedangkan untuk industri Rp 7.525 per satu kilogramnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maulanatazi menambahkan, pihaknya akan melakukan berbagai cara untuk menghindari adanya kekurangan pasokan dengan melakukan penambahan pasokan. Dari 600 metrik ton menjadi 750 metrik ton. Menurutnya distributor elpiji pun mereka lakukan penambahan tabung. Satu distributor biasanya dipasok 152 tabung sekarang menjadi 1.300 tabung.
"Walau pasokan ditambah. Kekosongan masih saja terjadi dan begitu dipasok elpijipun langsung habis diserbu oleh konsumen," ungkapnya.
Karena tidak bisa melakukan tindakan apapun, kata Maulana, pihaknya hanya bisa mengimbau semua kalangan industri untuk tidak membeli tabung gas elpiji seberat 12 Kg.
"Bagi yang biasa menggunakan tabung 50 Kg tetap menggunakannya. Jangan menggunakan tabung 12 Kg karena itu untuk rumah tangga," pungkasnya.
Untuk Jawa Timur Maret 2008 menjadi 1.557 metrik ton per bulan. Sedangkan pada Agustus 2007 elpiji kemasan 50 kilogram 3.141 metrik ton per bulan.
(bdh/qom)










































