"Sehingga bisa menentukan jumlah impor untuk raw sugar dan white sugar," kata Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (Agri) Melvin Korompis dalam surat jawaban Agri terhadap surat edaran Menteri Peradangan No 357/M-DAG/4/2008, Jumat (11/4/2008).
Hal ini kata Melvin bisa memberikan jalan keluar terhadap masalah yang dihadapi sekarang ini termasuk soal merembesnya gula rafinasi di pasar umum.
Selain itu, lanjut Melvin, sekarang ini tren pola minat konsumsi masyarakat terhadap gula bergeser yaitu lebih memilih gula-gula yang berkualitas.
Pola konsumsi ini menurutnya disebabkan oleh distribusi gula putih impor oleh para importir, pada kenyataannya adalah gula rafinasi.
"Kebiasaan masyarakat yang sudah mengenal gula rafinasi impor tersebut mengakibatkan kami tidak berdaya untuk melarang hasrat masyarakat yaitu gula rafinasi yang berkualitas baik dan aman dikonsumsi," paparnya.
Ia mencontohkan kebutuhan konsumsi gula rumah tangga pada tahun 2007 mencapai 2,7 juta ton yang dipenuhi dari produksi dalam negeri 2,4 juta ton, impor raw sugar 200.000 ton dan impor gula putih 450.000 ton sehingga total suplai mencapai 3 juta ton lebih.
"Terjadi over supply untuk konsumsi rumah tangga, ditambah lagi cary over stock tahun 2006 ke 2007 dan ijin impor untuk PPI, Bulog, NAD sebanyak 127.000 ton diperparah dengan daya beli yang lemah," papar Melvin.
Sedangkan untuk kebutuhan industri, lanjut Melvin, mencapai 2,15 juta ton yang diperoleh dari produksi gula rafinasi dalam negeri sebanyak 1,4 juta ton dan impor kalangan industri mencapai 684.000 ton. "Telah terjadi ketidakseimbangan antara supply dan demand," terangnya.
(hen/ddn)
