Ketua Koordinasi Proyek 10.000 MW Yogo Pratomo menjelaskan, pendanaan untuk PLTU Indramayu (3x330 MW) oleh Bank of China senilai US$ 592 juta akan diteken pada 28 April 2008 di Beijing.
Sementara pendanaan untuk PLTU Rembang (2x315 MW) oleh Barclays senilai US$ 261 juta akan menyusul setelahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan ditandatanganinya pendanaan kedua pembangkit ini, maka sekitar 50% pendanaan valas untuk 8 PLTU 10.000 MW di Jawa sudah aman. Total kebutuhan valas yang dicari mencapai US$ 2,987 miliar, dan yang sudah diamankan US$ 1,469 miliar.
Rinciannya, PLTU Rembang, PLTU Indramayu, PLTU Suralaya (1x625 MW) senilai US$ 284,3 juta oleh Cexim dan PLTU Paiton (1x660 MW) senilai US$ 330,8 juta juga oleh Cexim.
Sementara pendanaan valas PLTU Labuan (2x315 MW) yang sebelumnya dimenangkan ABN Amro dibatalkan karena Sinosure tidak bersedia menjamin.
"Sekarang sedang kita cari pendana lainnya. Mungkin kita dekati bank-bank dari China. Siapa tahu kalau dari China, Sinosure mau menjaminkan," kata Yogo.
Pendanaan valas untuk tiga PLTU lainnya, yaitu Pacitan (2x315 MW), Teluk Naga (3x315 MW) dan Pelabuhan Ratu (3x350 MW) sampai sekarang masih dalam proses.
Sedangkan PLTU Tanjung Awar-awar baru saja mendapat kontraktor, yaitu Sinomec. Dan PLTU Cilacap masih dalam proses tender EPC. "Batas pemasukkan dokumen lelang untuk PLTU Cilacap diundur dari hari ini sampai 15 Mei," tambah Yogo.
Untuk pendanaan valas PLTU 10.000 MW di luar Jawa, hingga saat ini belum ada yang berkomitmen. Total kebutuhan valasnya mencapai US$ 492,7 juta. (lih/ir)










































