Hal tersebut disampaikan Menneg BUMN Sofyan Djalil ketika ditemui di kantor Menteri Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Rabu malam (23/4/2008).
"Kita mau membentuk holding baru, untuk BUMN perkebunan, pertambangan, dan farmasi, tetapi perlu rapat satu kali lagi," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Holding yang akan dibentuk IRC (Integrated Resources Company), perkebunan, farmasi. Untuk IRC memang dilakukan melalui mekanisme RUPS terlebih dahulu karena holding pertambangan ini memang kebanyakan perusahaan terbuka," ujarnya.
Untuk induk dari holding farmasi, Sofyan mengatakan belum ditentukan apakah Kimia Farma yang akan menjadi induk perusahaan, karena keputusannya ada di Menkeu.
Sementara holding BUMN perbankan, dikatakannya hal itu belum mendesak untuk dilakukan pada saat ini. "Tapi dalam rangka SPP (Single Presence Policy) di 2010, kita akan bentuk holding juga," ujarnya.
Mengenai rencana pembentukan super holding BUMN, Sofyan menjawab rencana itu dilakukan setelah pembentukan holding BUMN ini dilakukan.
"Jadu kita mulai membikin batu-batunya, karena kalau langsung super holding implikasinya luas sekali, tadinya saya berpikir begitu juga dimulai dari super holding, kita harapkan dari 3 atau 4 (holding BUMN) ini menjadi contoh kasus holdingnya, jadi kasus-kasus holding keberhasilannya, setelah itu baru kita mulai yang lain-lain," tuturnya.
Privatisasi Tunggu DPR
Selain itu, Sofyan juga mengatakan mengenai rencana privatisasi BUMN di tahun ini, masih dibahas di DPR.
"Mengenai persiapan prosesnya, masing-masing BUMN yang masuk daftar sudah mempunyai tim masing-masing, dari mulai seleksi underwriter dan lainnya, mereka sudah mulai kerja," ujarnya. Mengenai BUMN mana yang akan terlebih dulu dilepas ke pasar, Sofyan menuturkan itu masih menunggu kondisi pasar.
"Itu tergantung pasar, kita tahu bagaimana kondisi pasar saat ini," jelasnya.
(dnl/ddn)










































