Migas Jadi Primadona Ekspor

Migas Jadi Primadona Ekspor

- detikFinance
Jumat, 02 Mei 2008 15:37 WIB
Migas Jadi Primadona Ekspor
Jakarta - Kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional membawa efek positif bagi ekspor Indonesia. Ekspor sektor migas jadi primadona ekspor pada bulan Maret 2008.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan dalam jumpa pers di kantor BPS, Jalan Dr Soetomo, Jakarta, Jumat (2/5/2008).

Rusman menuturkan ekspor pada bulan Maret 2008 mencapai US$ 11,9 miliar atau meningkat 12,96 persen dibanding Februari 2008. Sedangkan dibanding Maret 2007 naik sebesar 31,42 persen .

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ekspor non migas pada maret US$ 9,14 miliar meningkat 12,09 persen dibanding Februari 2008, dibanding Maret 2007 naik 21,99 persen.

Jadi secara kumulatif pada periode Januari-Maret ekspor tercapai sebesar US$ 33,62 miliar atau naik 31,43 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sedangkan ekspor non migas Januari-Maret US$ 26,24 miliar atau naik 24,83 persen.

"Yang naiknya cepat itu untuk ekspor itu ekspor migas, karena perkembangan harga minyak yang terus menerus meningkat. Jadi ekspor migas benar-benar kena windfall beneran," ujarnya.

Sementara di komoditas non migas, espor CPO masih jadi favorit. CPO ekspornya tercatat masih tinggi yaitu US$ 782,3 juta,

"Jadi catatan ekspor CPO ini luar biasa dan catatan lain selama harga minyak dunia terus naik, maka permintaan akan ekspor yang berbasis sumber daya alam untuk biofuel itu akan naik, karena bofuel ini akan dikembangkan seiring kenaikan harga minyak karena itu, ekspor CPO jadi punya harga yang bagus," ujarnya.

"Kalau saya ditanya prediksi ekspor ke depan selama harga minyak naik terus, dan yang otomatis akan menarik permintaan CPO dan barang-barang berbasis sumber daya alam, ekspor itu akan terus mengalami peningkatan," tambahnya.

Ekspor nonmigas ke Jepang Maret 2008 mencapai angka terbesar yaitu US$ 1,05 milyar, disusul Amerika Serikat US$ 970,3 juta dan China US$ 852,9 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 31,41 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$ 1,16 miliar.

Impor Maret US$ 10,01 Miliar

Nilai impor Indonesia Maret 2008 mencapai US$ 10,01 miliar atau meningkat 3,96 persen dibanding Februari 2008 yang terdiri dari impor nonmigas sebesar US$ 7,60 miliar (75,92 persen) dan impor migas sebesar US$ 2,41 miliar (24,08 persen).

Sedangkan selama Januari-Maret 2008 nilai impor Indonesia mencapai US$ 29,24 miliar dengan impor nonmigas sebesar US$ 22,41 miliar (76,64 persen) dan impor migas sebesar US$ 6,83 miliar (23,36 persen).

Nilai impor Indonesia di luar Kawasan Berikat Maret 2008 mencapai US$ 7,91 miliar atau meningkat 1,08 persen dibanding Februari 2008 yang besarnya US$ 7,82 miliar, sedangkan selama Januari-Maret 2008 nilai impor di luar Kawasan Berikat mencapai US$ 23,23 miliar atau meningkat 48,97 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Nilai impor Indonesia ke Kawasan Berikat Maret 2008 mencapai US$ 2,10 miliar atau meningkat 16,40 persen dibanding Februari 2008, sedangkan selama Januari-Maret 2008 nilai impor mencapai US$ 6,01 miliar.

Selama Januari-Maret 2008 impor nonmigas terbesar adalah mesin dan peralatan listrik dengan nilai US$ 3,29 miliar atau 14,70 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ditempati oleh Jepang dengan nilai US$ 3,38 miliar dengan pangsa 15,08 persen, diikuti Cina US$ 3,24 miliar (14,46 persen) dan Singapura US$ 2,73 miliar (12,17 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 24,62 persen dan Uni Eropa sebesar 10,15 persen.

Menurut golongan penggunaan barang, peranan impor untuk barang modal dan bahan baku/penolong selama Januari-Maret 2008 mengalami perubahan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yaitu masing-masing dari 76,39 persen dan 13,87 persen menjadi 78,00 persen dan 14,97 persen. Sedangkan impor barang konsumsi menurun dari 9,74 persen menjadi 7,03 persen.
(ddn/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads