"Kita akan menerapkan fuel surcharge dan efisiensi tentunya. Nanti kita hitung setiap kenaikan minyak US$ 1 akan naik jadi berapa," kata Eddy Porwanto, EVP Finance PT Garuda Indonesia (Persero), disela-sela MoU dengan Jasindo di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Selasa (6/5/2008).
Eddy mencontohkan, saat ini untuk penerbangan selama satu jam pada satu individu akan menghabiskan biaya Rp 165 ribu dan setelah triwulan I naik menjadi Rp 180 ribu. "Jadi perkiraan kasarnya seperti itu," kata Eddy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun pada triwulan I-2008 perolehan pendapatan bisa tumbuh 17-18% terutama didorong peningkatan jumlah penerbangan. "Sehingga laba masih di atas target walaupun belum bisa disebutkan angka-angkanya," ujar Eddy.
Tahun ini Garuda akan memfokuskan pada restrukturisasi utang yang diharapkan selesai Juni 2008. Opsi restrukturisasi utang ini kemungkinan melakukan penjadwalan utang (resheduling) kepada kreditornya ECA.
Karena fokus pada restrukturisasi utang, Garuda menurut Eddy sulit melakukan IPO tahun ini. Tapi jika menerbitkan obligasi masih memungkinkan.
Garuda juga pada pertengahan tahun 2009 akan menambah 5 armada pesawat baru yaitu Boeing 737 dan 800 NG.
Sementara Dirut Garuda, Emirsyah Satar mengatakan, fuel surcharges akan dikenakan d luar harga tiket, jadi nanti akan ada harga tiket dan pengenaan komponen-komponen lain seperti fuel surcharge.
"Contoh, harga tiket Rp 165 ribu, jadi pengguna layanan Garuda akan membayar tambahan fuel surcharge sebesar Rp 15 ribu setiap satu jam penerbangan, jadi pengenaan fuel surcharge akan tergantung pada jarak dan durasi penerbangan, sedangkan harga tiket tetap," jelas Emirsyah.
Namun besaran pasti fuel surcharge masih belum ditentukan, akan sangat tergantung pada penetapan harga bahan bakar yang diterima Garuda nanti.
"Dan tentunya tidak semua kenaikan harga minyak akan kita bebankan pada penumpang, karena kita juga lakukan berbagai efisiensi," ujarnya.
(ir/qom)










































